Kementerian Agama (Kemenag) RI melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) memperkuat PAUD Holistik berbasis Kurikulum Cinta untuk menyiapkan generasi emas cerdas, berakhlak dan berkarakter. (Foto: Istimewa).
BALIKPAPAN, (ERAKINI) – Kementerian Agama (Kemenag) RI melalui Direktorat dan Tenaga Kependidikan (GTK) terus memperkuat penerapan Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI) berbasis sebagai langkah strategis dalam membangun generasi masa depan yang unggul dan berkarakter.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Mainstreaming PAUD HI II Berbasis Kurikulum Cinta yang berlangsung pada 17–18 April 2026 di Horison Ultima Balikpapan, Kalimantan Timur. Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan Raudhatul Athfal (RA) agar mampu menghadirkan layanan pendidikan anak usia dini yang menyeluruh, berkualitas, dan berorientasi pada perkembangan anak secara optimal.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Arskal Salim, saat membuka kegiatan secara virtual menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini memiliki peran sangat penting dalam menentukan masa depan bangsa.
"Anak adalah amanah sekaligus masa depan bangsa. Jika kita ingin Indonesia maju, maka pendidikan anak usia dini harus menjadi prioritas. Kurikulum Cinta hadir untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan berempati," kata Arskal, Jumat (17/4/2026).
Penguatan PAUD HI yang dipadukan dengan nilai-nilai cinta, kemanusiaan, serta spiritualitas, menurut dia, akan menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan karakter dan nilai moral. "Melalui Kurikulum Cinta, kita ingin memastikan proses pendidikan sejak usia dini tidak hanya mengembangkan aspek kognitif, tetapi juga membangun kepedulian, empati, serta akhlak mulia sebagai bekal kehidupan anak di masa depan," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Subdirektorat GTK Raudhatul Athfal, Wahyudi Jafar, menjelaskan bahwa konsep PAUD Holistik Integratif menempatkan anak sebagai pusat layanan yang harus dipenuhi seluruh kebutuhannya secara terpadu. "PAUD HI menuntut kita melihat anak secara utuh. Pendidikan tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus berjalan beriringan dengan pemenuhan aspek kesehatan, gizi, pengasuhan, dan perlindungan anak. Inilah kunci melahirkan generasi yang berkualitas," tegas Wahyudi.
Guru dan tenaga kependidikan RA, lanjut dia, memiliki peran sentral dalam mengimplementasikan pendekatan tersebut sehingga seluruh layanan kepada anak berlangsung secara terintegrasi dan berorientasi pada tumbuh kembang optimal. Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur, Sabransyah, menilai keberhasilan PAUD HI tidak dapat dicapai hanya oleh satu pihak, tetapi memerlukan kolaborasi seluruh elemen. "Pembiasaan perilaku baik sejak usia dini harus dilakukan secara konsisten. Ini menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, madrasah, dan masyarakat," katanya.
Adapun selama dua hari pelaksanaan, para peserta memperoleh penguatan materi mengenai implementasi PAUD HI, pemenuhan gizi seimbang, penanganan anak berkebutuhan khusus, persiapan pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 13 Tahun, hingga konsep dasar madrasah inklusi.
Direktorat GTKMadrasah berharap, melalui kegiatan ini, implementasi PAUD HI berbasis Kurikulum Cinta semakin menguat di seluruh Raudhatul Athfal di Indonesia sehingga mampu menghadirkan layanan pendidikan anak usia dini yang holistik, inklusif, dan berkarakter sebagai fondasi lahirnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, berakhlak, dan berdaya saing.