Tim gabungan yang dikoordinir oleh BPBD Kab. Sumbawa Barat, melakukan penanganan pohon tumbang dan rumah rusak akibat angin kencang yang terjadi. (Foto: BPBD Kabupaten Sumbawa Barat)
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, bencanahidrometeorologi basah seperti banjir, cuaca ekstrem dan masih menerjang sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan laporan terbaru pada Senin (10/2/2025), tersebut melanda 4 provinsi.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari. “Berdasarkan laporan yang dirangkum oleh BNPB, pada Senin (10/2/2025), bencana seperti banjir, cuaca ekstrem, dan angin kencang tersebut terjadi di empat kabupaten dan kota dari empat provinsi,” kata Abdul Muhari dikutip dari laman resmi BNPB, Selasa (11/2/2025).
Berikut ini 4 provinsi yang diterjang bencana hidrometerologi, menurut laporan BNPB!
Provinsi Daerah Khusus Jakarta
Bencanabanjir terjadi di Kota Jakarta Barat, Provinsi Daerah Khusus Jakarta pada Jumat (7/2/2025), Banjir itu, kata Abdul Muhari, akibat dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi dengan durasi cukup lama.
Akibat banjir ini, kata dia, sedikitnya 8 kelurahan di Kecamatan Cengkareng, Grogol Petamburan, dan Kalideres terdampak. “Kelurahan tersebut meliputi Cengkareng Barat, Cengkareng Timur, Kapuk, Kedaung Angke, Rawa Buaya, Jelambar, Pegadungan, dan Tegal Alur,” katanya.
Banjir ini, lanjut dia, juga mengakibatkan 86 KK atau 310 jiwa terdampak dan membuat warga mengungsi. Kendati demikian, banjir dilaporkan sudah surut Minggu (9/2/2025) pagi sekira pukul 07.00 WIB.
“Sebagai upaya respons kejadian tersebut, BPBD setempat telah menyalurkan bantuan permakanan bagi warga terdampak sekaligus bersiaga guna mengantisipasi banjir kembali terjadi,” katanya.
Bencanabanjir juga terjadi di Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Abdul mengatakan, banjir ini terjadi akibat intensitas hujan ringan hingga lebat disertai angin kencang di sebagian besar wilayah Kabupaten Kutai Barat.
“Sebanyak tiga kampung di Kecamatan Siluq Ngurai tergenang banjir, yakni Kampung Tendiq, Bentas, dan Ponak. Sedikitnya 122 KK atau 388 jiwa terdampak, selain lima bangunan pemerintahan dan tiga akses jalan warga,” katanya.
Banjir yang terjadi sejak sepekan lalu ini dilaporkan telah berangsur surut pada Minggu (9/2/2025). Meski demikian BPBD setempat masih bersiaga dan terus melakukan monitoring terhadap bencanabanjir yang berpotensi terjadi kembali.
Cuaca ekstrem juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu dan Minggu (9-10/2/2025). Menurut Abdul, peristiwa ini terjadi di 10 desa dan kelurahan dari enam kecamatan, yang meliput Kecamatang Sekongkang, Poto Tano, Setuluk, Taliwang, Brang Ene, dan Brang Rea.
“Peristiwa berupa angin kencang ini menyebabkan 15 unit rumah warga mengalami kerusakan atap dan pohon tumbang sehingga menutup akses jalan. BPBD Sumbawa Barat telah melakukan upaya penanganan dan asesmen di lokasi kejadian, serta mendistribusikan bantuan logistik bagi warga terdampak,” katanya.
Angin kencang juga terjadi di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Sedikitnya 12 desa dan kelurahan di tujuh kecamatan dilaporkan mengalami peristiwa angin kencang ini, pada Minggu (9/2/2025).
“Hasil pendataan yang dilakukan oleh BPBD setempat, angin kencang ini menyebabkan dua orang mengalami luka-luka, 12 unit rumah rusak ringan, dan 20 titik pohon tumbang yang akibatnya sejumlah akses jalan juga terdampak,” kata Abdul.
Ia mengatakan bahwa sebagai upaya merespons bencana ini, BPBD Kabupaten Lumajang ini, selain melakukan koordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada juga telah mengirimkan tim reaksi cepat guna melakukan asesmen dan penanganan berupa pembersihan material yang terdampak bersama tim gabungan.
“Hingga berita ini diturunkan, dilaporkan penanganan pohon tumbang di sejumlah titik masih terus dilakukan,” katanya.
BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah setempat untuk selalu bersiaga dan meningkatkan kewaspadaannya terhadap potensi bencana yang ada menyusul rentetan peristiwa bencanahidrometeorologi basah yang masih terus terjadi.
“Berbagai upaya dapat dilakukan sebagai upaya mitigasi dan pencegahan, seperti memantau kondisi tanggul, pembersihan saluran air atau daerah aliras sungai, penyiapan pompa air atau tempat penampungan air serta rencana kedaruratan untuk mempersiapkan lokasi evakuasi, logistik dan peralatan penanganan bencana,” pungkasnya.