JAKARTA, (ERAKINI) – Inter Milan resmi menyegel gelar juara Liga Italia Serie A musim ini usai menundukkan Parma 2-0 pada pekan ke-35 di San Siro, Senin (4/5/2026) dini hari. Ini menjadi scudetto ke-21 dalam sejarah klub.
Selepas laga, euforia langsung pecah. Stadion bergemuruh oleh sorak-sorai, kembang api, dan nyanyian para pendukung. Perayaan pun meluas hingga ke jalan-jalan Kota Milano, dengan Piazza Duomo dipadati lautan suporter Nerazzurri.
Teriakan, pelukan, air mata, dan kemenangan menyatu dalam malam yang tak terlupakan bagi Inter dan para penggemarnya. San Siro menjadi saksi ledakan emosi, sementara seluruh penjuru kota berubah menjadi lautan hitam-biru. Dari yang berada di stadion hingga yang merayakan dari kejauhan, semua bersatu dalam satu rasa: cinta pada Inter.
Gelar ke-21 ini bukan sekadar angka. Ia adalah hasil dari perjuangan panjang—dikejar tanpa lelah, diraih dengan kerja keras, dan tak pernah dianggap sebagai sesuatu yang pasti, bahkan dua tahun setelah keberhasilan meraih bintang kedua.
Perjalanan Panjang Menuju Puncak
Perjalanan menuju Scudetto musim ini dimulai dari jauh. Tur pramusim di Amerika Serikat menjadi titik awal, sebelum tim melangkah perlahan—laga demi laga—hingga kembali ke puncak klasemen. Inter menunjukkan konsistensi luar biasa untuk kembali menjadi yang terbaik di Italia.
Sosok Cristian Chivu menjadi salah satu figur penting dalam perjalanan ini. Dengan pengalaman panjang bersama Inter—mulai dari cedera parah hingga meraih treble—ia menanamkan mental kuat kepada tim: belajar dari masa lalu, tetap fokus, dan terus berjuang.
Kemenangan telak 5-0 atas Torino di laga pembuka menjadi sinyal kuat. Sejak saat itu, Inter melaju dengan kombinasi kerja keras, disiplin, kekuatan, dan sentuhan kreativitas. Meski sempat menghadapi momen sulit, laju kemenangan di pertengahan musim hingga lonjakan performa di bulan April membuat mereka tak terkejar.
Kapten Lautaro Martínez tampil sebagai simbol kepemimpinan di lapangan. Ban kapten bukan sekadar atribut, melainkan tanggung jawab yang ia emban sepenuh hati. Ia hadir di momen-momen krusial, mencetak gol penting, dan menjadi motor penggerak tim tanpa pernah bersembunyi.
Kekuatan Kolektif Jadi Kunci
Kesuksesan Inter musim ini lahir dari kekuatan kolektif. Ada pemain lama yang memahami arti seragam ini, ada pula wajah baru yang langsung beradaptasi. Sebagian meraih Scudetto pertama bersama Inter, sebagian lainnya merasakan gelar pertama dalam karier, dan ada juga yang menambah koleksi trofi mereka.
Beragam latar belakang, satu tujuan. Kebersamaan itulah yang membangun perjalanan luar biasa ini—penuh gol, hiburan, dan momen kebahagiaan tanpa henti.