Paceklik Emas Indonesia di Kejuaraan Dunia BWF Berlanjut, Amri/Nita Kandas di Semifinal
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) - Paceklik medali emas Indonesia di Kejuaraan Dunia BWF berlanjut. Harapan Merah Putih untuk kembali berdiri di podium tertinggi kandas setelah ganda campuran Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah terhenti di semifinal Kejuaraan Dunia 2026 di New Delhi, India, Sabtu (22/8/2026).
Amri/Nita yang tampil sebagai debutan harus mengakui keunggulan pasangan nomor satu dunia asal China, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping. Mereka kalah tipis dalam pertarungan sengit selama 97 menit dengan skor 22-20, 14-21, 20-22.
Hasil tersebut memastikan Amri/Nita meraih medali perunggu sekaligus menjadi satu-satunya penyumbang medali Indonesia pada Kejuaraan Dunia tahun ini. Namun, pencapaian itu kembali memperpanjang penantian Indonesia untuk meraih emas yang terakhir kali diraih Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan pada Kejuaraan Dunia 2019 di Basel, Swiss.
Ahsan/Hendra saat itu menaklukkan pasangan Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi 25-23, 9-21, 21-15 pada partai final. Gelar tersebut menjadi mahkota dunia ketiga bagi Ahsan/Hendra setelah sebelumnya mereka juara pada 2013 dan 2015.
Sejak keberhasilan di Basel, Indonesia masih konsisten mengirimkan wakil ke podium Kejuaraan Dunia. Namun, medali emas tak kunjung kembali.
Indonesia bahkan absen pada Kejuaraan Dunia 2021 di Huelva, Spanyol. PBSI menarik seluruh wakil Indonesia dengan pertimbangan keamanan dan keselamatan di tengah penyebaran varian Omicron COVID-19.
Saat kembali tampil pada Kejuaraan Dunia 2022 di Tokyo, Ahsan/Hendra kembali menjadi tumpuan utama. Mereka melaju hingga final sebelum dikalahkan pasangan Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik dengan skor 19-21, 14-21.
Medali perak Ahsan/Hendra dilengkapi perunggu dari Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Indonesia pun membawa pulang dua medali dari Tokyo, tetapi tanpa emas.
Setahun berselang, estafet medali berpindah ke sektor ganda putri. Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang mencapai final Kejuaraan Dunia 2023 di Kopenhagen.
Langkah Apriyani/Fadia terhenti setelah kalah dari pasangan China sekaligus unggulan pertama, Chen Qing Chen/Jia Yi Fan, dengan skor 16-21, 12-21. Medali perak tersebut menjadi satu-satunya medali Indonesia pada edisi 2023.
Kejuaraan Dunia kemudian tidak digelar pada 2024 karena bertepatan dengan tahun penyelenggaraan Olimpiade Paris.
Pada edisi 2025 di Paris, tunggal putri Putri Kusuma Wardani menjaga tradisi Indonesia untuk tetap berada di podium. Putri melaju hingga semifinal sebelum dikalahkan wakil Jepang Akane Yamaguchi melalui pertarungan tiga gim, 17-21, 21-14, 6-21.
Kini, giliran Amri/Nita yang meneruskan tradisi tersebut.
Menariknya, Amri/Nita datang ke New Delhi tanpa status unggulan dan menjalani debut di panggung Kejuaraan Dunia. Namun, mereka justru menjadi wakil Indonesia yang melaju paling jauh.
Perjalanan Amri/Nita juga tidak mudah. Mereka mampu menyingkirkan sejumlah pasangan unggulan, termasuk juara All England 2026 Ye Hong Wei/Nicole Gonzales Chan pada babak 16 besar dan unggulan ke-11 Yang Po-Hsuan/Hu Ling Fang di perempat final.
Di semifinal, Amri/Nita bahkan nyaris menciptakan kejutan besar. Mereka mampu memaksa Feng/Huang memainkan gim penentuan hingga kedudukan 20-20.
Namun, dua poin terakhir menjadi milik pasangan China. Amri/Nita pun harus menerima medali perunggu dan Indonesia kembali gagal mengirimkan wakil ke final Kejuaraan Dunia.
Jika ditarik sejak keberhasilan Ahsan/Hendra pada 2019, Indonesia telah mengoleksi lima medali dalam empat edisi Kejuaraan Dunia yang diikuti, yakni dua perak dan tiga perunggu.
Penyumbangnya pun terus berganti. Pada 2022, medali datang dari ganda putra melalui Ahsan/Hendra dan Fajar/Rian. Setahun kemudian, giliran Apriyani/Fadia dari ganda putri. Pada 2025, Putri Kusuma Wardani membawa medali dari sektor tunggal putri. Tahun ini, Amri/Nita mempertahankan tradisi tersebut melalui ganda campuran.
Rangkaian itu memperlihatkan Indonesia masih mampu menjaga eksistensi di podium Kejuaraan Dunia. Namun, konsistensi tersebut belum berujung pada gelar juara.
Tujuh tahun setelah Ahsan/Hendra mengangkat trofi dunia di Basel, medali emas masih menjadi kepingan yang hilang dari koleksi Indonesia di Kejuaraan Dunia BWF.

















