Penyerang andalan Liverpool FC, Mohamed Salah (Foto: Getty Images via fourfourtwo.com)
JAKARTA, (ERAKINI) - Sejumlah bintangsepak bola dunia turut menjalani ibadah puasa Ramadan. Di antara mereka, ada nama besar yang tak asing di telinga publik global, yakni Mohamed Salah.
Penyerang andalan Liverpool FC itu bukan hanya dikenal karena ketajamannya di lapangan, tetapi juga karena identitasnya sebagai yang menjalankan ajaran agama secara terbuka di tengah kompetisi elite Eropa.
Di setiap pertandingan, Salah kerap tertangkap kamera memanjatkan doa sebelum laga dimulai. Saat mencetak gol, pemain bernomor punggung 11 itu hampir selalu melakukan sujud syukur di tengah lapangan.
Bagi sebagian penonton di Inggris, selebrasi tersebut awalnya tampak sebagai gestur biasa. Namun, bagi banyak penggemar sepak bola, aksi itu memunculkan rasa penasaran.
Mengapa harus bersujud usai mencetak gol? Dalam laman resmi Liverpool, Salah pernah menjelaskan makna selebrasinya.
“Selebrasi dengan bersujud seperti berdoa atau berterima kasih pada Tuhan atas apa yang telah saya raih. Saya selalu melakukan itu sejak lama dan di mana pun saya bermain,” ujar Salah.
Sujud sendiri merupakan bagian penting dalam ibadah salat umat Islam. Bagi Salah, gerakan itu bukan sekadar simbol, melainkan ungkapan spiritual yang telah ia lakukan sejak kecil.
Meredam Islamofobia Lewat Prestasi
Eropa, termasuk Inggris, dalam beberapa dekade terakhir menghadapi gelombang islamofobia yang dipicu berbagai faktor, mulai dari aksi terorisme hingga krisis pengungsi dari negara-negara seperti Irak, Suriah, dan Afghanistan.
Islamofobia dipahami sebagai rasa takut dan kebencian terhadap Islam serta diskriminasi terhadap umat muslim dalam kehidupan sosial, ekonomi, maupun politik.
Di tengah situasi tersebut, kehadiran Salah di Liga Inggris dinilai membawa warna berbeda. Prestasi gemilangnya bersama Liverpool, termasuk gelar Premier League dan trofi Liga Champions yang membuat namanya dielu-elukan publik Inggris.
Identitasnya sebagai muslim yang taat pun menjadi sorotan. Tanpa ceramah panjang, ia memperlihatkan praktik keislaman melalui tindakan sederhana: berdoa, bersujud, serta menjaga perilaku di dalam dan luar lapangan.
Sebuah penelitian dari Departemen Ilmu Politik Universitas Stanford menyebutkan, kehadiran Salah di Inggris berkorelasi dengan penurunan kejahatan rasial terhadap muslim hingga 18,9 persen di wilayah tertentu. Peneliti Stanford, William Marble, menyebut ada dua kemungkinan penjelasan.
“Pertama, orang-orang mungkin menjadi lebih toleran. Kedua, banyak orang berbicara soal Mohamed Salah. Ia diterima dengan baik di sini dan orang melihat bahwa dari Mohamed Salah, Islam tidak seburuk yang selama ini mereka kira,” ujarnya.
Fenomena Salah bahkan merambah ke tribun stadion. Salah satu yel-yel suporter Liverpool berbunyi, “If he scores another few then I’ll be Muslim too” (Jika dia mencetak beberapa gol lagi, aku pun akan menjadi Muslim).
Lirik tersebut kerap dinyanyikan pendukung Liverpool sebagai bentuk dukungan sekaligus candaan yang mencerminkan penerimaan terhadap sang pemain.
Di luar lapangan, Salah dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan rendah hati. Ia tidak terlibat kontroversi, menjauhi minuman keras, serta tetap menjaga prinsip agamanya.
Dalam sebuah perayaan kemenangan, Salah sempat terlihat menghindar ketika rekan setimnya melakukan champagne spray. Ia memilih menjauh agar tidak terkena cipratan minuman beralkohol tersebut.
Sikap konsisten itu memperkuat citranya sebagai figur publik yang memadukan profesionalisme dan keyakinan pribadi.
Lewat gol, sujud syukur, serta perilaku sehari-hari, Mohamed Salah menghadirkan wajah Islam yang damai dan moderat di panggung sepak bola dunia.
Tanpa retorika panjang, ia menunjukkan bahwa perbedaan agama bukan penghalang untuk menciptakan harmoni, bahkan di tengah kompetisi paling kompetitif di Eropa.