Sarah Chaari, Perempuan Muslim Eropa berjilbab pertama yang sabet medali Olimpiade Paris 2024. (Foto: Istimewa)
JAKARTA, (ERAKINI) - Atlet taekwondo asal Belgia, Sarah Chaari, berhasil mengukir sejarah di Olimpiade Paris 2024 dengan menjadi Muslim berhijab pertama dari Eropa yang memenangkan medali Olimpiade.
Keberhasilan Sarah Chaari di Olimpiade Paris 2024 bukan hanya menjadi kebanggaan bagi dirinya dan Belgia, tetapi juga menjadi simbol inspirasi bagi banyak wanita Muslimah di Eropa dan dunia.
Sarah Chaâri bersinar di Olimpiade 2024 dengan meraih medali perunggu di cabang taekwondo kategori di bawah 67 kg putri, mengalahkan Ozoda Sobirjonova dari Uzbekistan dengan skor 2-1.
Prestasi itu mengukuhkan statusnya sebagai bintang yang sedang naik daun di olahraga tersebut. Di usianya yang baru 19 tahun, dia sudah membuat gebrakan berkat rekam jejaknya yang mengesankan dan bakatnya yang luar biasa.
Yang membuat Sarah semakin istimewa bukan hanya keunggulan atletiknya, tetapi juga fakta bahwa ia memilih untuk mengenakan kerudung dalam perjalanannya menuju olahragawan tinggi.
Dalam masyarakat yang sering menerapkan stereotip dan prasangka, Sarah memutuskan untuk menentang ekspektasi dan membuktikan bahwa tidak ada hambatan dalam perjalanan menuju kesuksesan olahraga bagi wanita berjilbab.
Kesuksesannya di Olimpiade Paris tidak hanya melambangkan kemenangan pribadinya, tetapi juga kemenangan seluruh perempuan yang memperjuangkan hak dan kesetaraannya. Meraih medali di Olimpiade merupakan dambaan setiap atlet olahraga.
Bagi Sarah, medali perunggu itu lebih dari sekedar pengakuan atas keunggulan olahraga. Itu adalah simbol perjuangan, usaha dan kepercayaan diri. Sarah menunjukkan bahwa perempuan bisa sukses dan mencapai impian mereka terlepas dari hambatan yang diberikan masyarakat kepada mereka.
Meski kalah di semifinal melawan Viviana Marton dari Hongaria (2-0), Chaâri berhasil bangkit pada perebutan medali perunggu. Dengan air mata kebahagiaan di matanya dan bendera Belgia di bahunya, Chaâri menikmati kemenangannya. “Ini adalah pencapaian yang luar biasa,” katanya.
Bagi Chaâri, medali ini merupakan hasil kerja kerasnya. “Medali ini lebih besar dari gelar juara dunia, karena Olimpiade hanya berlangsung empat tahun sekali. Kualifikasi pun sulit. Ini puncak bagi para atlet,” ujarnya di balik layar megah Grand Palais.
Sarah memceritakan, di babak pertama perebutan tempat ketiga di Olimpiade, dirinya pada awal-awal laga sulit menerima ketika dikalahkan oleh taekwondo Uzbekistan dengan skor telak 2-16. Namun perlahan namun pasti dirinya bangkit.
"Pelatih saya meminta saya untuk sedikit melambat dan tidak menyerang terlalu banyak, agar tetap tenang. Itu membuat segalanya kembali normal; pikiran saya menjadi lebih jernih di awal ronde kedua," jelasnya.
Atlet muda tersebut memang menunjukkan kemauan yang luar biasa. “Saya memiliki kontrol yang lebih besar di sisa pertarungan dan tampil kuat di ronde ketiga. Itu benar-benar tergantung pada beberapa detail, namun di Olimpiade, hal itulah yang terpenting.”
Hanya beberapa detik menjelang akhir, saat masih tertinggal, Chaâri berhasil mendaratkan tendangan ke tubuh lawannya untuk menyamakan kedudukan. Setelah verifikasi video oleh wasit, ia dianugerahi satu poin ekstra karena lutut lawannya menyentuh tanah dua persepuluh sebelum peluit akhir dibunyikan, memicu antusiasme di kalangan pendukung Belgia.
“Sangat mengesankan mendengar penonton bersorak. Terkadang saya mendengar teman dan keluarga menyemangati saya, dan itu sungguh luar biasa,” tambahnya, senang bisa membuat orang-orang di sekitarnya bangga.
Sebagai juara bertahan Eropa dalam kategori ini dan juara dunia pada tahun 2022, serta pemenang European Games 2023 dalam kategori -62 kg, ia telah memberikan Belgia medali Olimpiade pertamanya di bidang taekwondo. Ini merupakan olimpiade pertama dia.
Dengan ambisinya, Chaâri berharap dapat berpartisipasi dalam Olimpiade edisi mendatang dan memenangkan lebih banyak medali. “Jadi kami akan kembali mengerjakan hal ini,” tutupnya, siap menghadapi tantangan baru.
Selain prestasi atletiknya, Sarah juga mengejar karier akademis di bidang kedokteran. Dia berhasil menyeimbangkan antara studi dan latihannya dengan mendedikasikan waktu malamnya untuk berlatih setelah menghadiri kelas di siang hari.
Sarah Chaari sendiri lahir pada 2 Mei 2005 di Belgia dari ayah berasal Maroko dan ibu asli Belgia, kecintaannya pada seni bela diri Taekwondo ternyata sudah dimulai sejak masih kecil.
Chaari mulai berlatih taekwondo pada usia lima tahun dan dengan cepat menunjukkan bakatnya. Meskipun masih muda, ia mencapai tonggak penting, termasuk memenangkan Kejuaraan Taekwondo Dunia di divisi ringan pada tahun 2022 di usianya yang baru 17 tahun.
Pada tahun 2023, Chaari melanjutkan kesuksesannya dengan meraih medali emas di European Games di kategori 62 kg dan memenangkan Grand Prix Taekwondo.