JAKARTA, (ERAKINI) – Maroko dan Senegal bersiap bentrok di final Piala Afrika 2025, Senin (19/1) dini hari pukul 02.00 WIB. Tuan rumah Maroko memburu gelar pertama setelah hampir 50 tahun, sementara Senegal siap menegaskan statusnya sebagai tim elite Afrika.
Di bawah cahaya gemerlap Rabat, sepak bola Afrika akan sejenak menahan napas. Tuan rumah Maroko, yang merindukan berakhirnya penantian hampir lima dekade, akan menghadapi kekuatan besar yang berambisi menegaskan statusnya di benua Afrika.
Saat peluit panjang dibunyikan di Stade Prince Moulay Abdellah, Afrika akan memiliki juara barunya, sekaligus menambah satu halaman penting dalam sejarah turnamen terbesar benua tersebut. Kedua tim sama-sama mengincar gelar AFCON kedua: Maroko dengan beban sejarah dan nostalgia, Senegal dengan konsistensi dan ambisi mempertahankan dominasi.
Partai puncak ini mempertemukan dua negara dengan tradisi sepak bola terbaik di benua Afrika. Keduanya disatukan oleh sejarah dan rasa saling menghormati, namun dipisahkan oleh ambisi besar dalam 90 menit yang menentukan.
Setelah sebulan penuh pertandingan berkualitas yang menampilkan kekuatan Afrika, baik di dalam maupun di luar lapangan, laga pamungkas ini menjanjikan duel yang sepadan dengan besarnya panggung.
Final ini menjadi final AFCON keempat bagi Senegal dan yang pertama sejak 2021. Sementara itu, Maroko memainkan final AFCON kedua mereka dan yang pertama sejak 2004. Saat Maroko menjuarai AFCON 1976, fase akhir masih menggunakan format round-robin tanpa laga final.
Ini merupakan pertemuan pertama kedua tim di ajang AFCON, namun pertemuan ke-32 secara keseluruhan. Maroko unggul dengan 18 kemenangan, berbanding enam milik Senegal, serta tujuh hasil imbang. Pertemuan terakhir terjadi di semifinal CHAN 2024 di Uganda, yang dimenangkan Maroko melalui adu penalti.
Maroko Memikul Beban
Maroko terakhir kali mengangkat trofi Piala Afrika atau AFCON pada 1976. Hampir 50 tahun berselang, Atlas Lions kini berada di ambang mengakhiri penantian panjang tersebut, didukung penuh publik tuan rumah dan keuntungan bermain di kandang sendiri.
Namun, keunggulan itu juga membawa beban ekspektasi besar. Tekanan kini berada di pundak Maroko, dan kemampuan mengelola emosi akan menjadi faktor krusial.
“Tim yang secara alami berada di bawah tekanan adalah Maroko. Itu normal karena kami bermain di kandang,” ujar pelatih kepala Walid Regragui dalam konferensi pers prapertandingan, dikutip dari laman resmi CAF.
“Bagi kami, kuncinya adalah mengelola emosi. Ketakutan saya hanya satu: kami tidak bermain lepas karena terlalu menekan diri sendiri. Ini adalah pertandingan sepak bola, sebuah final. Anda harus memainkannya dan menikmatinya,” tambahnya.
Sepanjang turnamen, Maroko menunjukkan karakter kuat, termasuk saat menyingkirkan Nigeria lewat adu penalti di semifinal. Laga tersebut menegaskan ketangguhan mental dan kemampuan mereka bertahan dalam tekanan, dengan kiper Yassine Bounou tampil sebagai pahlawan.
Senegal dengan Kepercayaan Diri
Di sisi lain, Senegal melangkah ke final dengan keyakinan khas tim yang terbiasa tampil di panggung besar. Dalam satu dekade terakhir, Lions of Teranga membangun budaya konsistensi melalui perencanaan jangka panjang, yang ditandai dengan kehadiran rutin di semifinal, final, dan raihan trofi.
Bagi Senegal, mencapai fase akhir AFCON telah menjadi standar, bukan kejutan. “Mencapai semifinal hampir menjadi batas minimum bagi Senegal, dan final sudah menjadi kebiasaan,” kata bek Moussa Niakhaté.
“Kami selalu menjunjung rasa hormat—itu bagian dari nilai kami sebagai orang Senegal. Pada akhirnya, hanya akan ada satu pemenang: Maroko atau kami,” ucapnya.
Sebagai juara AFCON 2021, Senegal juga berhasil melampaui pencapaian edisi sebelumnya di Pantai Gading, ketika mereka tersingkir di babak 16 besar. Sejak laga pembuka, Senegal tampil dengan kombinasi kelas, kedewasaan, dan rasa lapar akan kemenangan—atribut yang menjadikan mereka lawan berbahaya bagi tuan rumah.
Hormat sebelum Rivalitas
Menjelang final, kedua tim menunjukkan sikap yang serupa: penuh respek, terkendali, dan saling mengakui kekuatan lawan.
Bagi pelatih Senegal, Pape Thiaw, laga ini membawa tanggung jawab yang melampaui hasil akhir. “Hari ini, yang dipertaruhkan adalah citra Afrika,” ujar Thiaw.
“Kita tidak boleh merusaknya. Bermain melawan tuan rumah memang tidak mudah karena dukungan penonton, tetapi di lapangan tetap 11 lawan 11.”
Thiaw sendiri sudah merasakan gelar kontinental setelah membawa Senegal menjuarai Kejuaraan Nasional Afrika (CHAN) 2023 di Aljazair.
Maroko pun menyadari sepenuhnya tantangan dari sang juara bertahan. “Senegal akan selalu hadir, dengan atau tanpa penonton. Mereka kuat. Tim-tim besar selalu berada di fase akhir,” kata Regragui.
Penyerang muda Maroko, Eliesse Ben Seghir, menyoroti makna emosional dari laga ini.
“Ketika Anda berusia 20 tahun dan melihat para pemain senior menangis setelah lolos ke final, Anda langsung memahami betapa pentingnya pertandingan ini—bagi mereka dan bagi negara,” ucapnya.
Jalan Menuju Final
Maroko
Grup A: Juara grup dengan tujuh poin dari dua kemenangan dan satu hasil imbang
16 Besar: Maroko 1–0 Tanzania
Perempat final: Maroko 2–0 Kamerun
Semifinal: Maroko 0–0 Nigeria (menang adu penalti)
Senegal
Grup D: Juara grup dengan tujuh poin dari dua kemenangan dan satu hasil imbang
16 Besar: Senegal 3–1 Sudan
Perempat final: Senegal 1–0 Mali
Semifinal: Senegal 1–0 Mesir