Jembatan kuno tanpa semen dibangun menggunakan prinsip gaya tekan dan bentuk lengkung (arch). Batu dipahat presisi agar saling mengunci, mengandalkan gravitasi dan berat beban untuk menjaga kestabilan struktur.
Rahasianya terletak pada teknik konstruksi kuno yang sangat cerdas. Membangun kerangka kayu berbentuk lengkung terlebih dahulu sebagai penyangga. Setelah itu batu terakhir yang dipasang disebut batu kunci atau kiston yaitu batu yang mengunci seluruh susunan lengkungan.
Berkat prinsip teknik yang sederhana namun luar biasa ini, banyak terdapat di Tiongkok (China) dan Yunani. Jembatan batu kuno mampu bertahan dan sebagian masih digunakan hingga sekarang.