Sebanyak 12 ekor bekantan ditemukan mati terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda habitat satwa liar di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan. Peristiwa tersebut diketahui setelah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan menerima laporan dari petugas pemadam kebakaran dan masyarakat pada Minggu (13/9/2026). Selain belasan bekantan, satu ekor ular piton dan satu ekor king cobra juga ditemukan dalam kondisi terbakar.
Kawasan yang terdampak diperkirakan merupakan habitat sekitar 60 ekor bekantan, meski jumlah tersebut masih perlu diverifikasi melalui pemantauan langsung di lapangan. BKSDA Kalsel masih melakukan pengecekan untuk mengetahui kemungkinan adanya satwa lain yang berhasil bertahan hidup dan membutuhkan pertolongan maupun evakuasi. Kebakaran terutama melanda lahan milik masyarakat dengan sekitar 80 persen area terbakar, sedangkan kawasan tanah desa relatif aman. Belasan bekantan yang ditemukan mati berada di wilayah yang terdampak kobaran api.
BKSDA Kalsel menduga kondisi habitat yang terfragmentasi, besarnya kobaran api, serta tiupan angin kencang membuat sebagian bekantan tidak sempat menyelamatkan diri. Seluruh bangkai bekantan yang ditemukan telah ditangani dan dikuburkan. BKSDA juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta masyarakat untuk memantau kondisi habitat dan keberadaan satwa liar lainnya. Peristiwa ini kembali menunjukkan dampak karhutla terhadap ekosistem, karena kebakaran tidak hanya menghanguskan lahan, tetapi juga mengancam rumah dan kehidupan satwa di dalamnya.