JAKARTA, (ERAKINI) - Harga emas dunia kembali bergerak turun pada perdagangan, Senin (16/3/2026) pagi ini. Jika kembali ditutup di zona merah, maka logam mulia tersebut berpotensi mencatat penurunan selama empat hari berturut-turut.
Di Indonesia, harga emas perhiasan menunjukkan variasi yang cukup signifikan tergantung pada kadar kemurniannya. Untuk emas perhiasan dengan kadar tertinggi, yakni 24 karat, harga yang ditawarkan mencapai Rp2.645.000 per gram. Harga ini mencerminkan tingginya tingkat kemurnian emas yang digunakan dalam perhiasan tersebut.
Sementara itu, emas perhiasan dengan kadar yang jauh lebih rendah, yakni 5 karat, dibanderol dengan harga Rp484.000 per gram. Perbedaan harga ini terjadi karena kandungan emas murni pada perhiasan 5 karat lebih sedikit dibandingkan dengan emas 24 karat.
Adapun untuk harga emas perhiasan yang dipasarkan melalui platform Lakuemas, pada hari ini tercatat berada di level Rp2.587.000 per gram. Harga tersebut menjadi salah satu acuan bagi masyarakat yang ingin membeli atau menjual emas perhiasan di pasar.
Sedangkan emas dunia, pada Senin (16/3/2026) pukul 07.30 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat sebesar 5.018 dollar AS per troy ons. Dilansir dari Bloomberg Technoz, angka ini melemah tipis 0,08 persen dibandingkan penutupan perdagangan pada akhir pekan lalu.
Sebelumnya, harga emas telah mengalami penurunan selama tiga hari berturut-turut. Dalam periode tersebut, harga logam mulia ini tercatat turun hingga 3,22 persen.
Secara keseluruhan, sepanjang perdagangan pekan lalu harga emas turun 2,65 persen secara point-to-point. Tekanan terhadap harga emas juga dipengaruhi perkembangan geopolitik global. Konflik yang memanas di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan harga logam mulia.
Perang yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel turut mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap meningkatnya tekanan inflasi global.
Pada akhir pekan lalu, harga minyak mentah jenis brent ditutup di level 103,14 dollar AS per barel. Harga tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juni 2022 atau hampir empat tahun terakhir.
Kenaikan harga minyak mentah berpotensi meningkatkan harga bahan bakar minyak (BBM). Jika harga BBM naik, tekanan inflasi di berbagai negara juga diperkirakan ikut meningkat.
Ancaman inflasi yang tinggi dapat membatasi ruang gerak bank sentral di berbagai negara, termasuk bank sentral Amerika Serikat, untuk melonggarkan kebijakan moneter. Dengan kondisi tersebut, peluang penurunan suku bunga acuan diperkirakan menjadi semakin kecil.
Di sisi lain, emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil atau non-yielding asset. Karena itu, kepemilikan emas menjadi kurang menarik bagi investor ketika suku bunga masih berada pada level tinggi.