Search

Merencanakan Walimatussafar dalam Momentum Halal bi Halal Tahun ini

Prof Dr H Muhammad Ishom, M.A.
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Keberangkatan haji merupakan salah satu peristiwa penting dalam siklus kehidupan umat Muslim. Selain sebagai pemenuhan rukun Islam kelima, haji juga memiliki dimensi sosial yang kuat dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Tahun ini, kebahagiaan tersebut hadir di tengah keluarga ketika salah satu anggota mendapatkan panggilan untuk berangkat ke Tanah Suci setelah menunggu dalam waktu yang tidak singkat.

Momentum ini beririsan dengan tradisi pasca-Idulfitri yang dikenal luas di Indonesia, yaitu halal bi halal. Secara sosiologis, halal bi halal berfungsi sebagai mekanisme rekonsiliasi sosial—ruang simbolik untuk memperbarui relasi, menghapus potensi konflik, serta memperkuat kohesi dalam jaringan kekerabatan maupun komunitas.

Dalam konteks keluarga yang akan memberangkatkan anggota untuk berhaji, halal bi halal kerap dipadukan dengan Walimatussafar.

Tradisi ini dapat dipahami sebagai bentuk ritual sosial-keagamaan yang mengandung dua fungsi sekaligus: sebagai ekspresi syukur dan sebagai medium kolektif untuk memanjatkan doa keselamatan bagi calon jemaah.

Secara antropologis, Walimatussafar mencerminkan bagaimana praktik keagamaan tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan budaya lokal.

Doa bersama, kehadiran komunitas, dan simbol pelepasan menunjukkan bahwa perjalanan haji tidak hanya bersifat individual, tetapi juga dimaknai sebagai peristiwa komunal.

Namun demikian, praktik-praktik tersebut tidak berlangsung dalam ruang hampa. Dinamika global, khususnya ketegangan geopolitik internasional, berpotensi memengaruhi kebijakan penyelenggaraan haji.

Dalam kondisi seperti ini, muncul ketidakpastian yang berdampak langsung pada kesiapan psikologis calon jemaah.

Respons yang muncul di masyarakat cenderung beragam. Sebagian calon jemaah mengambil posisi “wait and see”, yaitu menunda pengambilan keputusan hingga terdapat kepastian resmi.

Dari perspektif psikologi keputusan, sikap ini dapat dipahami sebagai upaya meminimalkan risiko dalam situasi yang ambigu.

Namun, strategi menunggu juga memiliki keterbatasan. Ketidakpastian yang berkepanjangan berpotensi menurunkan kualitas persiapan, terutama dalam aspek-aspek yang membutuhkan waktu dan konsistensi, seperti kesiapan fisik, penguasaan manasik, serta penguatan mental-spiritual.

Dalam kerangka ini, penting untuk membedakan antara variabel yang dapat dikendalikan dan yang tidak. Kebijakan pemerintah dan dinamika global berada di luar kendali individu.

Sebaliknya, kesiapan pribadi merupakan domain yang sepenuhnya dapat diupayakan oleh calon jemaah.

Oleh karena itu, pendekatan yang lebih adaptif adalah tetap melanjutkan proses persiapan secara optimal. Upaya menjaga kesehatan, mengikuti bimbingan manasik, serta memperdalam pemahaman ibadah haji merupakan investasi yang tetap relevan, terlepas dari kepastian keberangkatan.

Terkait Walimatussafar, reinterpretasi makna menjadi penting. Alih-alih dipahami sebagai acara seremonial yang harus digelar secara besar, esensinya dapat difokuskan pada fungsi spiritual dan sosialnya. Dengan demikian, pelaksanaannya dapat disesuaikan secara proporsional dengan kondisi yang ada.

Lebih lanjut, kemantapan niat menjadi faktor determinan dalam menghadapi ketidakpastian. Dalam perspektif teologis, ibadah haji dipahami sebagai panggilan ilahi. Keyakinan ini dapat berfungsi sebagai mekanisme coping yang membantu individu tetap stabil secara emosional.

Analisis ini menunjukkan bahwa kesiapan menyeluruh, meliputi aspek fisik, mental, dan spiritual—lebih menentukan dibandingkan kepastian eksternal yang fluktuatif. Individu yang memiliki kesiapan tinggi cenderung lebih resilien dalam menghadapi perubahan situasi.

Jadi, penggabungan halal bi halal dan Walimatussafar tetap memiliki relevansi dalam konteks kekinian. Keduanya tidak hanya berfungsi sebagai tradisi, tetapi juga sebagai instrumen sosial dan spiritual untuk memperkuat kesiapan menghadapi ibadah haji.

Di tengah ketidakpastian, kesiapan internal dan kemantapan niat menjadi fondasi utama dalam menyambut perjalanan suci tersebut.