Search

Rudal Iran Hantam Jantung LNG Qatar, UEA Tutup Fasilitas Gas, Ancaman Global Mengintai

QATAR, (ERAKINI) - Ketegangan di kawasan Teluk mencapai titik kritis setelah serangan rudal Iran menghantam pusat industri energi strategis milik Qatar. Dampaknya bukan hanya lokal, tetapi berpotensi mengguncang pasokan energi dunia.

Perusahaan energi nasional QatarEnergy mengonfirmasi bahwa serangan yang terjadi di Ras Laffan, pusat utama pengolahan LNG negara itu, menyebabkan kerusakan besar. Lokasi yang berada sekitar 80 kilometer dari Doha ini merupakan tulang punggung industri energi Qatar.

Dalam pernyataannya, QatarEnergy menyebut tim darurat segera diterjunkan untuk mengatasi kebakaran akibat serangan tersebut. Meski demikian, tidak ada korban jiwa, dan seluruh pekerja berhasil dipastikan dalam kondisi aman.

Ras Laffan sendiri menjadi basis operasi berbagai perusahaan energi global, termasuk raksasa energi Shell. Perusahaan ini mengaku tengah mengevaluasi dampak serangan terhadap asetnya di kawasan tersebut.

“Saat ini kami sedang menilai potensi dampak apa pun terhadap aset yang dioperasikan atau digunakan oleh Shell di Kota Industri Ras Laffan dan akan memberikan informasi lebih lanjut pada waktunya,” ujar juru bicara perusahaan.

Shell diketahui memiliki 30 persen saham pada fasilitas LNG berkapasitas 7,8 juta ton per tahun, serta menguasai penuh pabrik gas-ke-cair Pearl yang mampu mengolah hingga 1,6 miliar kaki kubik gas per hari. QatarEnergy juga melaporkan bahwa fasilitas Pearl mengalami kerusakan signifikan, disusul serangan lanjutan yang memicu “kebakaran besar” di beberapa instalasi LNG lainnya.

Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan peringatan keras kepada Iran. Ia menegaskan bahwa serangan lanjutan terhadap fasilitas LNG Qatar akan dibalas secara ekstrem.

Dalam pernyataannya di media sosial, Trump mengancam akan “meledakkan seluruh Ladang Gas South Pars secara besar-besaran” jika Iran kembali menyerang.

Ia juga mengungkap bahwa Israel sebelumnya telah menyerang ladang gas South Pars tanpa koordinasi dengan AS maupun Qatar.

Sebagai respons diplomatik, pemerintah Qatar mengambil langkah tegas dengan mengusir perwakilan keamanan dan militer Iran. Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan mereka sebagai “persona non grata” dan memberi waktu 24 jam untuk meninggalkan negara tersebut.

Dalam pernyataan resminya, serangan ke Ras Laffan disebut sebagai “ancaman langsung” terhadap keamanan nasional, sekaligus menuding Iran bertindak secara tidak bertanggung jawab.

Dampak Global: Ancaman Krisis Energi

Qatar sendiri merupakan produsen sekitar 77 juta ton LNG per tahun dan menjadi eksportir terbesar kedua di dunia untuk bahan bakar vital pembangkit listrik dan industri.

Analis energi Saul Kavonic memperingatkan bahwa serangan ini bisa memicu krisis berkepanjangan.

Ia menyebut, “serangan terhadap Ras Laffan dapat menyebabkan kekurangan gas global yang berkepanjangan,” meskipun kondisi tersebut justru berpotensi menguntungkan Amerika Serikat dari sisi ekonomi.

UEA Ikut Terdampak: Fasilitas Gas Ditutup

Efek konflik juga merembet ke Uni Emirat Arab. Otoritas setempat melaporkan insiden di fasilitas gas Habshan serta ladang minyak Bab akibat puing rudal yang berhasil dicegat.

Fasilitas gas Habshan, yang dioperasikan oleh ADNOC, langsung ditutup sebagai langkah pencegahan. Kompleks ini merupakan salah satu pusat pengolahan gas terbesar di dunia, dengan kapasitas mencapai 6,1 miliar kaki kubik standar per hari.

Meski tidak ada korban luka, penutupan ini menandai eskalasi serius yang dapat mengganggu stabilitas pasokan energi regional dan global.