Search

AS-Iran di Ambang Perang, Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak Tembus USD70 per Barel

JAKARTA, (ERAKINI) – Harga minyak mentah Brent hari ini melonjak dan menyentuh level tertinggi dalam empat bulan, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Iran.

Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dengan produksi sekitar 3,2 juta barel per hari. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah pun memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan global.

Analis PVM John Evans mengatakan, kekhawatiran utama pasar saat ini adalah dampak lanjutan jika Iran melakukan serangan balasan ke negara-negara tetangganya atau bahkan menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari.

“Perhatian pasar saat ini tertuju pada potensi kerusakan lanjutan jika Iran bereaksi, terutama jika Selat Hormuz ditutup,” ujar Evans kepada Reuters, Kamis (29/1/2026).

Kontrak berjangka minyak Brent tercatat naik USD1,65 atau 2,4 persen menjadi USD70,05 per barel pada pukul 13.08 GMT. Minyak mentah Brent adalah harga patokan utama untuk pembelian minyak di seluruh dunia.

Dalam perdagangan intraday, harga sempat menyentuh USD70,35 per barel, level tertinggi sejak akhir September. Sepanjang Januari, harga Brent berpeluang mencatatkan kenaikan lebih dari 15 persen, yang menjadi lonjakan bulanan terbesar dalam empat tahun terakhir.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan akan melakukan kunjungan ke Turkiye untuk bertemu dengan para pejabat setempat. Kunjungan tersebut disebut-sebut berkaitan dengan peluang mediasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Meski menunjukkan sinyal kesiapan untuk menempuh jalur diplomasi, Iran juga memperlihatkan sikap siaga militer. Angkatan bersenjata Iran menyatakan telah menerima 1.000 unit drone strategis baru.

Drone tersebut dikembangkan oleh Angkatan Darat Iran bersama Kementerian Pertahanan setelah konflik bersenjata selama 12 hari yang terjadi tahun lalu.

Situasi ini menunjukkan dua arah yang berjalan bersamaan, yakni kesiapan Iran untuk menghadapi kemungkinan konflik, sekaligus membuka ruang perundingan. Namun, Iran menegaskan dialog hanya akan dilakukan dengan bermartabat dan tanpa tekanan ancaman serangan militer dari Amerika Serikat.