TEHERAN, (ERAKINI) - Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah militer Amerika Serikat menyerang dua kapal tanker berbendera Iran di kawasan Teluk Oman pada Jumat (8/5/2026) waktu setempat. Insiden tersebut langsung memicu aksi balasan dari Teheran dan membuat situasi gencatan senjata yang sebelumnya sudah rapuh semakin berada di ujung tanduk.
Di tengah memanasnya konflik, Presiden Donald Trump mengaku masih menunggu respons resmi Iran terkait proposal terbaru Washington guna mengakhiri perang yang terus berkecamuk di kawasan tersebut.
Pemerintah Iran mengecam keras tindakan Amerika Serikat. Teheran menilai serangan terhadap kapal tanker itu sebagai bentuk pelanggaran terhadap kesepakatan penghentian konflik sekaligus ancaman terhadap jalur diplomasi yang sedang diupayakan.
Situasi juga semakin rumit setelah kelompok Hezbollah meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer Israel. Serangan itu disebut sebagai respons atas operasi militer Israel di Beirut serta wilayah selatan Lebanon yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 11 orang pada Jumat.
Menurut Komando Pusat AS, jet tempur F/A-18 Super Hornet menggunakan amunisi presisi untuk menghentikan dua kapal Iran di Teluk Oman agar tidak melanjutkan pelayaran menuju Iran. Kawasan tersebut diketahui menjadi jalur strategis menuju Strait of Hormuz, salah satu lintasan distribusi minyak terpenting dunia.
Seorang pejabat militer Iran kemudian menyatakan bahwa angkatan laut negaranya telah melakukan serangan balasan atas apa yang disebut sebagai “pelanggaran gencatan senjata dan aksi teror Amerika.” Ia juga menambahkan bahwa “bentrokan kini telah berhenti.”
Ketegangan di Selat Hormuz sebelumnya memang terus meningkat. Bahkan, salah satu penasihat pemimpin tertinggi Iran sempat menyamakan kendali atas selat tersebut dengan memiliki “bom atom” karena besarnya pengaruh terhadap distribusi energi global.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington tidak dapat menerima jika Teheran menguasai jalur minyak strategis itu. Saat berbicara di Roma, Rubio menyebut pemerintah AS menunggu jawaban Iran atas proposal perdamaian terbaru dan berharap mendapatkan “tawaran serius.”
Sementara itu, Trump juga memberikan pernyataan singkat dari Gedung Putih. “Saya akan menerima surat malam ini, jadi kita lihat bagaimana kelanjutannya,” ujarnya.
Amerika Serikat disebut telah mengirim proposal baru melalui mediasi Pakistan untuk memperpanjang masa gencatan senjata di Teluk. Langkah tersebut dilakukan agar pembicaraan menuju penyelesaian permanen konflik yang pecah sekitar 10 pekan lalu tetap dapat berlangsung.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan proposal itu masih “dalam peninjauan.” Pernyataan tersebut disampaikan kepada media Iran ISNA.
Di sisi lain, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeed Irvani, melayangkan surat resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB dan Dewan Keamanan. Dalam surat tersebut, Iran menuduh Amerika Serikat telah melanggar gencatan senjata melalui serangan terhadap kapal tanker mereka.
Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, juga bertemu Wakil Presiden AS JD Vance di Washington guna membahas upaya perdamaian permanen yang dimediasi Pakistan.Gencatan senjata, serangan, jet tempur, Amerika Serikat, AS, Iran,