Search

Serangan Iran Meluas ke 4 Negara Teluk Arab, Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam

DUBAI, (ERAKINI) - Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin meningkat setelah Iran melancarkan gelombang serangan baru ke sejumlah negara Teluk Arab pada Selasa (10/3/2026). Aksi militer tersebut memperluas tekanan regional di tengah konflik yang terus memanas dengan Israel dan Amerika Serikat.

Sirene peringatan rudal dilaporkan berbunyi di Dubai, wilayah Uni Emirat Arab, serta di Bahrain pada pagi hari. Sementara itu, Arab Saudi mengumumkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil menghancurkan dua drone di kawasan timur yang kaya minyak.

Di sisi lain, Kuwait melalui Garda Nasionalnya menyatakan telah menembak jatuh enam drone yang diduga berasal dari Iran. Selain menargetkan Israel dan pangkalan militer Amerika di kawasan tersebut, Iran juga mengarahkan serangan ke infrastruktur energi strategis. Langkah ini, ditambah kendali Iran terhadap jalur pelayaran vital di Selat Hormuz, memicu lonjakan tajam harga minyak dunia.

Harga Minyak Dunia Melonjak

Konflik yang terus meningkat membuat pasar energi global terguncang. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga hampir 120 dolar AS per barel pada Senin sebelum kembali turun. Meski demikian, harga minyak masih berada di kisaran 90 dolar AS per barel, sekitar 24 persen lebih tinggi dibandingkan saat perang mulai pecah pada 28 Februari. Kenaikan harga tersebut juga dipicu oleh gangguan distribusi minyak dan gas yang menjadi sumber energi utama dunia.

Presiden AS Donald Trump mencoba meredakan kekhawatiran bahwa konflik akan berkembang menjadi perang regional berkepanjangan. Ia menyatakan bahwa operasi militer yang sedang berlangsung kemungkinan hanya akan berlangsung dalam waktu singkat.

Namun pernyataan Trump dinilai kontradiktif karena sebelumnya ia menyebut perang dapat berlangsung hingga satu bulan atau lebih. Dalam unggahan di media sosial, Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan merespons dengan kekuatan jauh lebih besar jika Iran menghambat aliran minyak melalui Selat Hormuz.

“Jika Iran menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam dua puluh kali lebih keras daripada yang sudah mereka alami,” tulisnya.

Sebagai tanggapan, juru bicara Islamic Revolutionary Guard Corps, Ali Mohammad Naini, menegaskan bahwa Iran tidak akan mundur dan akan menentukan sendiri kapan perang tersebut berakhir.

Sementara itu, penasihat kebijakan luar negeri Iran Kamal Kharazi mengatakan negaranya siap menghadapi konflik jangka panjang dan menilai peluang diplomasi hampir tidak ada kecuali negara lain menekan Amerika Serikat dan Israel untuk menghentikan serangan.

Konflik Meluas hingga Irak dan Lebanon

Perang juga meluas ke negara lain di kawasan. Di Irak utara, serangan udara menghantam milisi pro-Iran di kota Kirkuk. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya lima anggota militan dan melukai empat lainnya.

Di Lebanon, kelompok milisi Hezbollah yang didukung Iran terlibat baku serang dengan Israel setelah militer Israel melancarkan beberapa serangan ke posisi mereka. Selain itu, milisi yang didukung Iran di Irak juga terus menyerang pangkalan militer Amerika sejak konflik dimulai.

Selat Hormuz Lumpuh, Kapal Tanker Terhenti

Situasi semakin memburuk setelah Iran secara efektif menghentikan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Arab dengan Teluk Oman dan menjadi gerbang menuju Samudra Hindia.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia biasanya melewati jalur ini. Namun kini kapal tanker tidak dapat beroperasi secara normal. Menurut International Maritime Organization, serangan terhadap kapal dagang di sekitar selat tersebut telah menewaskan sedikitnya tujuh pelaut.

Sejak konflik dimulai, jumlah korban terus meningkat di berbagai negara. Data pejabat setempat menunjukkan sedikitnya: 1.230 orang tewas di Iran, 397 orang meninggal di Lebanon, 11 orang tewas di Israel. Selain itu, setidaknya tujuh anggota militer Amerika Serikat juga dilaporkan meninggal dunia.

Sementara itu, jutaan warga sipil di kawasan Timur Tengah terpaksa mengungsi atau mencari perlindungan akibat serangan yang menghantam pangkalan militer, gedung pemerintahan, fasilitas energi, hotel, hingga sekolah.

Di tengah ketidakpastian tersebut, pasar keuangan global terus berfluktuasi tajam. Meski sempat bergejolak dalam beberapa hari terakhir, pasar saham Asia pada Selasa pagi dibuka dengan kenaikan awal yang mencerminkan optimisme sementara di kalangan investor.