Search

Harapan Baru Pendidikan di Gaza, PBB: Perlengkapan Sekolah Akhirnya Masuk usai Diblokir 2 Tahun

JENEWA, (ERAKINI) - Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhirnya mengonfirmasi masuknya perlengkapan sekolah ke Jalur Gaza setelah terhambat selama lebih dari dua tahun. Informasi tersebut disampaikan oleh Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) pada Selasa (27/1/2026), menandai pengiriman pertama bahan pembelajaran ke wilayah tersebut sejak lama terblokir oleh otoritas Israel.

Dalam pengiriman terbaru ini, ribuan paket bantuan pendidikan berhasil masuk, mencakup pensil, buku latihan, hingga mainan edukatif berupa balok kayu. UNICEF menyebutkan bahwa bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung kegiatan belajar anak-anak di tengah krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.

Juru bicara UNICEF, James Elder, menjelaskan bahwa dalam beberapa hari terakhir pihaknya menerima ribuan perlengkapan rekreasi serta ratusan kotak perlengkapan sekolah. Selain itu, UNICEF juga tengah bersiap menerima tambahan sekitar 2.500 paket perlengkapan sekolah dalam waktu dekat, setelah memperoleh persetujuan masuk ke Gaza.

Sementara itu, COGAT, lembaga militer Israel yang mengatur lalu lintas bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait pengiriman tersebut.

Elder menuturkan bahwa anak-anak di Gaza saat ini menghadapi krisis pendidikan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selain sistem pendidikan yang lumpuh akibat konflik, pembatasan masuknya bahan ajar seperti buku dan alat tulis memaksa para guru mengajar dengan sarana yang sangat terbatas. Banyak anak terpaksa belajar pada malam hari di dalam tenda tanpa penerangan yang memadai, sementara sebagian lainnya sama sekali tidak dapat mengakses pendidikan karena harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar, seperti air bersih dan makanan, di tengah meluasnya kasus kekurangan gizi.

Ia menegaskan bahwa dua tahun terakhir menjadi periode yang sangat berat bagi anak-anak Gaza dan organisasi kemanusiaan seperti UNICEF, yang berupaya mempertahankan akses pendidikan tanpa dukungan perlengkapan dasar. Namun, dengan mulai masuknya bantuan ini, UNICEF melihat adanya perubahan positif yang signifikan.

UNICEF kini memperluas program pendidikannya dengan target menjangkau sekitar separuh anak usia sekolah di Gaza, atau setara dengan 336.000 anak. Dukungan pembelajaran tersebut sebagian besar akan dilaksanakan di tenda-tenda darurat, mengingat kerusakan parah yang dialami bangunan sekolah akibat perang yang dipicu oleh serangan Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023.

Berdasarkan analisis citra satelit PBB pada Juli lalu, sedikitnya 97 persen sekolah di Gaza mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi. Israel sebelumnya menuduh Hamas dan kelompok bersenjata lainnya memanfaatkan fasilitas sipil, termasuk sekolah, untuk kepentingan militer serta menjadikan warga sipil sebagai perisai manusia.

UNICEF menyebutkan bahwa sebagian besar ruang belajar yang mereka dukung berada di wilayah tengah dan selatan Gaza, karena kondisi di wilayah utara masih sangat sulit diakses akibat kehancuran masif dalam beberapa bulan terakhir konflik.

Serangan yang dipimpin Hamas pada Oktober 2023 dilaporkan menewaskan sekitar 1.200 orang, menurut data Israel. Sementara itu, serangan balasan Israel disebut telah menyebabkan kematian sekitar 71.000 warga Palestina, berdasarkan laporan otoritas kesehatan Gaza. UNICEF juga mencatat bahwa lebih dari 20.000 anak menjadi korban jiwa, termasuk 110 anak yang dilaporkan meninggal sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober tahun lalu, berdasarkan data resmi.