Search

Timur Tengah Kembali Memanas! AS dan Iran Saling Serang, Gencatan Senjata di Ambang Kehancuran

WASHINGTON, (ERAKINI) - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memuncak setelah kedua negara saling melancarkan serangan militer di kawasan Teluk, memicu kekhawatiran runtuhnya gencatan senjata rapuh yang baru berlaku sejak 8 April 2026 lalu.

Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran masih tetap berlaku meskipun terjadi insiden militer terbaru di Selat Hormuz

Trump menyebut serangan Iran terhadap tiga kapal perang Amerika sebagai “hal kecil” dan menilai situasi masih terkendali. “Mereka mencoba mempermainkan kita hari ini. Kami menghancurkan mereka. Saya menganggap ini hanya hal sepele,” ujar Trump kepada wartawan di Washington.

Militer Amerika melalui United States Central Command menyatakan bahwa pasukan Iran meluncurkan rudal, drone, dan kapal cepat ke arah tiga kapal perang AS di Selat Hormuz. Meski demikian, tidak ada serangan yang berhasil mengenai sasaran.

CENTCOM mengklaim pihaknya langsung merespons dengan menghancurkan ancaman yang datang sekaligus menyerang fasilitas militer Iran yang dianggap bertanggung jawab atas serangan tersebut. “Pasukan kami tidak mencari eskalasi, tetapi siap melindungi personel Amerika kapan pun dibutuhkan,” demikian pernyataan CENTCOM.

Di sisi lain, Iran justru menuding Amerika Serikat lebih dulu melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal tanker minyak dan sejumlah kapal lain di kawasan Teluk. Komando militer Iran menyatakan pasukan Teheran segera melakukan serangan balasan terhadap kapal militer AS sebagai respons langsung atas aksi tersebut.

Meski situasi kembali memanas, Trump sehari sebelumnya sempat memberi sinyal optimistis terkait peluang tercapainya kesepakatan baru dengan Teheran. Namun setelah bentrokan terbaru terjadi, ia kembali melontarkan ancaman keras.

Melalui platform Truth Social, Trump memperingatkan Iran akan menghadapi serangan yang jauh lebih brutal jika tidak segera menyetujui perjanjian yang diinginkan Washington. “Kami akan menghantam mereka jauh lebih keras dan lebih kejam di masa depan jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan,” tulis Trump.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan Teheran masih memfinalisasi sikap resminya sebelum menyampaikan keputusan kepada Pakistan yang bertindak sebagai mediator.

Sebelum bentrokan terbaru pecah, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bahkan sempat menyatakan keyakinannya bahwa gencatan senjata AS-Iran dapat bertahan dalam jangka panjang. Namun di dalam negeri Iran sendiri, sebagian warga mengaku pesimistis terhadap peluang perdamaian.

Seorang fotografer asal Teheran bernama Shervin menyebut kedua pihak sebenarnya belum benar-benar siap mencapai kesepakatan damai. “Jika serius ingin damai, mengapa begitu banyak kapal perang dan pasukan militer dikirim ke kawasan ini?” ujarnya.

Ketegangan AS-Iran juga berdampak pada situasi di Lebanon. Serangan Israel di Beirut selatan yang menewaskan seorang komandan senior Hezbollah kembali meningkatkan tekanan terhadap gencatan senjata di negara tersebut.

Pemerintah AS mengonfirmasi bahwa Israel dan Lebanon akan kembali menggelar pembicaraan baru pada 14–15 Mei mendatang di Washington. Pertemuan itu menjadi dialog ketiga antara kedua negara dalam beberapa bulan terakhir.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyebut peluang tercapainya kesepakatan damai antara Israel dan Lebanon sangat terbuka. Menurut Rubio, hambatan utama bukan hubungan antar pemerintah, melainkan keberadaan Hizbullah yang terus terlibat dalam konflik regional.

Situasi di kawasan semakin rumit setelah Iran memperketat akses di Selat Hormuz sejak perang pecah pada akhir Februari. Jalur vital distribusi minyak dunia itu kini menyebabkan ribuan awak kapal dan sekitar 1.500 kapal internasional tertahan di kawasan Teluk.

Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional PBB, Arsenio Dominguez, mengatakan kondisi tersebut menimbulkan ancaman serius terhadap perdagangan global dan keamanan pelayaran internasional. Di tengah krisis yang terus berkembang, Trump juga mengaku telah berbicara dengan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen. Menurutnya, Amerika Serikat dan Uni Eropa memiliki sikap yang sama bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.