TEHERAN, (ERAKINI) - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah para pejabat tinggi Iran menuding Amerika Serikat (AS) sebagai penghambat utama proses negosiasi perdamaian. Tuduhan ini muncul kebijakan blokade laut yang disebut-sebut membatasi akses pelabuhan Iran.
Di tengah situasi tersebut, Islamic Revolutionary Guard Corps mengklaim telah menahan dua kapal asing di Selat Hormuz serta melepaskan tembakan peringatan terhadap kapal ketiga yang dianggap melanggar aturan maritim.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negaranya tetap membuka pintu dialog. Namun, ia menyebut adanya pelanggaran kesepakatan, tekanan militer, dan ancaman sebagai penghalang serius bagi tercapainya negosiasi yang jujur dan konstruktif.
Sementara itu, dari pihak Washington, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyampaikan bahwa Donald Trump belum menentukan batas waktu terkait kemungkinan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran. Keputusan akhir, menurutnya, sepenuhnya berada di tangan presiden.
Di sisi lain kawasan, Lebanon melontarkan kecaman keras terhadap Israel atas serangan yang menewaskan jurnalis Amal Khalil serta melukai rekannya, Zeinab Faraj. Insiden tersebut terjadi meskipun kedua negara sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata.
Pemerintah Lebanon menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran berulang, mengingat laporan adanya serangan harian yang mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan permukiman warga sipil.