Astuti yang sudah mengabdi selama 21 tahun di lembaga pendidikan milik Kementerian Agama (Kemenag) tersebut juga mengaku sangat bersyukur, karena lulus PPPK bareng anak sulungnya di lembaga yang sama.
Perempuan yang biasa disapa Bu Tuti itu sudah mengabdi di tempat tersebut sejak masih bernama MTs Teladan Guppi, kemudian berganti lagi menjadi MTsN 2 Rantauprapat. Selama dua dekade itu, Astuti telah menjalani peran sebagai staf tata usaha, sekaligus menjadi ibu tunggal untuk kedua anaknya sejak 2008.
"Saya tidak pernah malu mengerjakan apapun, asalkan itu halal dan baik. Bahkan, saya sempat berjualan jajan di madrasah untuk menyekolahkan anak-anak saya," ujar Astuti dengan mata berkaca-kaca seperti dilansir dari situs resmi Kemenag pada Kamis (30/1/2025).
Tuti sangat paham, mengabdi di lembaga pendidikan tidak bisa menjadikannya seseorang yang kaya raya. Karena itu, selama mengabdi tersebut ia hidup ngontrak bersama kedua anaknya.
Meski hidup serba sederhana, Tuti merasa bersyukur karena bisa menyekolahkan anak-anaknya. Tuti mengatakan, salah satu kebanggaannya ketika melihat anak sulungnya, Maysaroh, lulus dari Universitas Univa Labuhanbatu pada 2019.
"Saya dan putri saya, Maysaroh, kini sama-sama berdedikasi di MTsN 2 Labuhanbatu. Saya sebagai staf dan ia sebagai guru. Kami sangat mensyukuri semua yang sudah Allah gariskan pada kami," tambahnya dengan penuh rasa syukur.
Dengan status barunya sebagai PPPK, Astuti berharap dapat terus diberi kesehatan dan dapat memberikan kontribusi terbaik untuk Kementerian Agama.
"Status PPPK ini adalah amanah besar yang harus saya jalankan dengan sebaik-baiknya," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala MTsN 2 Labuhanbatu, Sarifah, memberikan ucapan selamat kepada Astuti dan putrinya.
"Saya terharu melihat perjuangan dan penantian panjang ibu dan anak ini. Jarang sekali ada ibu dan anak yang lulus bersama. Semoga keduanya terus memberikan yang terbaik untuk MTsN 2 Labuhanbatu dan selalu disiplin serta penuh tanggung jawab dalam bekerja," ujar Sarifah.