Hujan buatan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dimaksimalkan oleh BMKG untuk memadamkan api di Jambi sebagai langkah antisipasi lahan gambut kritis. (Foto: BMKG).
JAMBI, (ERAKINI) – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Provinsi Jambi selama 10 hari pada 10-19 Agustus 2025.
OMC ini dilakukan untuk mengantisipasi dan menekan risiko kebakaran dengan meningkatkan curah hujan di wilayah rawan, menambah kelembapan tanah, serta menekan potensi penyebaran api, terutama di area gambut yang kritis.
Menurut Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto, kebakaran yang terjadi pada lahan gambut dengan kedalaman tertentu sangat sulit untuk dipadamkan jika hanya melalui upaya operasi darat.
“Satu-satunya cara yang paling efektif untuk dapat memadamkan titik kebakaran pada lahan gambut adalah dengan siraman air hujan yang dapat dimaksimalkan melalui upaya OMC. Penerbangan penyemaian awan pada kegiatan OMC periode 9–19 Agustus 2025 telah mulai dilaksanakan dari tanggal 10 Agustus 2025,” kata Tri Handoko dikutip dari laman resmi BMKG, Selasa (12/8/2025).
Seto mengatakan, ada sebanyak 2 sorti dengan total 1.600 kg yang disemai di wilayah Timur Jambi, di antaranya Kab. Tanjung Jabung Barat, Kab. Tanjung Jabung Timur, Kab. Batanghari dan Kab. Muaro Jambi.
Adapun berdasarkan hasil Monitoring Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) pada lahan gambut di Provinsi Jambi tanggal 10 Agustus 2025, kondisi saat ini masih menunjukkan adanya potensi tinggi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hasil pemantauan alat ukur TMAT yang tersebar di sisi Timur Jambi, sekitar 30 persen area dalam kategori aman di kisaran 0 hingga -40 cm pada 10 Agustus 2025. Sementara sisanya merupakan wilayah dengan nilai TMAT < – 40 cm.
Lebih rinci, sekitar 60% area berada pada kisaran -40 hingga -60 cm (kategori rawan kebakaran, kelembapan tanah mulai rendah), sekitar 9% area berada pada kisaran -60 hingga -80 cm (kategori sangat rawan kebakaran), dan sekitar 1% area berada di bawah -80 cm (kategori kritis, sangat mudah terbakar).
Sementara itu, menurut Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca Edison Kurniawan, kondisi TMAT ini mengindikasikan bahwa sebagian besar lahan gambut di Jambi mengalami penurunan muka air tanah yang signifikan. Akibatnya, vegetasi dan lapisan gambut menjadi kering dan mudah terbakar.
Berdasarkan data satelit pemantauan hotspot per 9 Agustus 2025, terdeteksi 14 titik panas dengan kepercayaan rendah–sedang di wilayah Provinsi Jambi. Beberapa wilayah dengan sebaran tertinggi di antaranya, Kab. Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Barat. “Peningkatan jumlah titik api ini sejalan dengan kondisi TMAT yang masih terpantau rendah di beberapa lokasi,” ujar Edison.
Lebih lanjut, BMKG memprediksi bahwa hingga 14 Agustus 2025 masih ada peluang pembentukan awan hujan di beberapa wilayah Provinsi Jambi. Hal ini sangat mendukung efektivitas pelaksanaan OMC karena peluang keberhasilan akan lebih tinggi ketika awan potensial masih tersedia.
Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, BMKG terus melakukan upaya penanganan bencana asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui koordinasi dengan Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hasilnya, menurut BMKG, terbukti ampuh menurunkan jumlah titik api di sejumlah provinsi yang kerap terdampak bencana karhutla.
Tri Handoko Seto menegaskan bahwa hasil ini tidak lepas dari langkah dini sejak sebelum terjadinya bencana asap karhutla secara masif. “OMC menjadi salah satu penanggulangan bencana asap karhutla yang paling efektif karena dapat langsung mematikan nyala api, penyebab munculnya kabut asap,” kata Seto
Untuk diketahui, OMC di Jambi sebelumnya telah dilakukan dalam dua periode, yakni pada 1–10 Juli 2025 dan 25–31 Juli 2025. Kedua operasi ini berhasil mengurangi jumlah titik api di Provinsi Jambi dan sekitarnya.
OMC ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan PT Wirakarya Sakti (WKS) dan didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, Pemerintah Provinsi Jambi, serta TNI AU.
Sementara itu, operasional kegiatan dikendalikan dari Pos Komando (Posko) di Gedung Posko Bencana Provinsi Jambi. Kegiatan Operasi Modifikasi Cuaca ini BMKG didukung oleh TNI AU dari Skadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh Malang dengan mengerahkan armada pesawat CASA 212-200 beserta 11 crew pesawat.