Akad di Tengah Banjir, KUA Pademangan Buktikan Negara Hadir Layani Tanpa Batas
Akhmad Baihaqi Arsyad
JAKARTA, (ERAKINI) - Jakarta Utara pagi itu bukan sekadar diguyur hujan. Air meluap, menutup jalanan, merendam pekarangan rumah, dan mematahkan rencana banyak orang untuk beraktivitas seperti biasa. Namun, di tengah kondisi yang nyaris melumpuhkan segalanya, ada satu hal yang tetap berjalan tanpa ragu: pelayanan publik. Di KUA Pademangan, pintu kantor tetap terbuka, berkas tetap disiapkan, dan satu janji sakral tetap dijaga, akad nikah tidak boleh tertunda.
Bagi sepasang calon pengantin, banjir bukan hanya persoalan cuaca. Ia menjadi ujian kesabaran, kesiapan, dan keyakinan. Akses menuju kantor terhambat, kendaraan sulit melintas, pakaian basah oleh genangan. Namun kegelisahan itu perlahan mereda ketika kepastian datang: petugas KUA memastikan prosesi akad tetap dilaksanakan.
Kepala KUA Pademangan, Thowilan mengatakan bahwa tidak ada wacana pembatalan, tidak ada alasan untuk menunggu. “Yang ada hanyalah tekad bahwa pelayanan negara harus tetap hadir,” katanya dilansir dari laman Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Sejak pagi, kata dia, para petugas KUA telah berjuang menembus air yang menggenang. Sepatu basah, celana digulung, namun semangat tak surut. Mereka menata ruang akad dengan kondisi seadanya, menjaga dokumen agar tetap aman, memastikan saksi hadir, dan menjamin hak warga negara terpenuhi.
“Saat banyak layanan lain memilih menghentikan aktivitas, KUA Pademangan mempertegas keberpihakannya pada masyarakat,” katanya.
Prosesi akad berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Di luar ruangan, hujan terus mengguyur tanpa kompromi. Di dalam, lantunan ijab kabul terdengar tegas dan sakral, mengalahkan suara air yang mengalir. Tak ada dekorasi mewah, tak semua sudut ruangan kering sempurna. Namun kehadiran negara terasa nyata, tertib, penuh empati, dan berorientasi pada pelayanan manusiawi, bahkan di situasi darurat.


















