Momen akrab Presiden RI Prabowo Subianto dengan Gus Nabil di Muktamar ke-35 NU. (Foto: Istimewa).
JOMBANG, (ERAKINI) — Momen interaksi PresidenPrabowo Subianto dengan Ketua Umum PP Pagar Nusa Muchamad Nabil Haroen atau Gus Nabil dalam pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jumat (28/8/2026), mencuri perhatian. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, Prabowo tampak menghampiri dan menepuk pundaknya dalam suasana akrab. menyebut pertemuan tersebut berlangsung spontan dan bukan sesuatu yang istimewa, mengingat keduanya telah lama saling mengenal melalui organisasi pencak silat. Ia pernah lima tahun menjabat Wakil Ketua Umum PB IPSI ketika Prabowo masih menjadi Ketua Umum PB IPSI.
“Saya kira itu pertemuan yang biasa dan spontan saja. Kebetulan saya memang sudah cukup lama mengenal dan berinteraksi dengan Pak Prabowo. Saya pernah lima tahun menjadi Wakil Ketua Umum PB IPSI ketika beliau menjadi Ketua Umum PB IPSI. Jadi, kami pernah bersama-sama dalam satu organisasi dan tentu cukup sering berkomunikasi,” kata Gus Nabil di Jombang, Jumat (28/8/2026).
Menurut Gus Nabil, kedekatan tersebut juga tidak terlepas dari dunia pencak silat. Saat ini, Gus Nabil juga mengemban amanah sebagai Ketua Umum PP Pagar Nusa dan Wakil Ketua Umum PB IPSI.
“Kalau kita tarik benang merahnya, kami sama-sama bergerak dalam pencak silat dan sama-sama memiliki komitmen terhadap Pancasila, persatuan, serta kebangsaan. Jadi, ketika beliau lewat kemudian menyapa dan menepuk-nepuk pundak saya, saya kira itu bentuk keakraban yang wajar saja. Tidak perlu ditafsirkan terlalu jauh,” ujarnya.
Gus Nabil menegaskan tidak ada pembicaraan khusus dengan Presiden Prabowo mengenai dinamika MuktamarNU. Interaksi keduanya berlangsung sangat singkat dan Presiden hanya menyapa serta memberikan semangat.
Menurut dia, independensi NU dalam menentukan arah organisasi harus tetap dijaga. Muktamar merupakan forum tertinggi organisasi dan menjadi wilayah para muktamirin, kiai, serta warga NU.
“Pemerintah kita hormati sebagai mitra strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi urusan internal jam’iyyah tentu harus diselesaikan oleh NU sendiri dengan mekanisme dan tradisi yang dimilikinya,” tegas Gus Nabil.
Apresiasi Penghormatan Prabowo kepada Kiai Kampung
Gus Nabil juga menyoroti pidato Presiden Prabowo dalam pembukaan Muktamar, khususnya ketika Kepala Negara memberikan penghormatan kepada para ulama dan kiai yang selama ini bekerja di tengah masyarakat.
Menurut Gus Nabil, perhatian Presiden terhadap kiai-kiai di kampung memiliki makna penting karena kekuatan NU sesungguhnya tumbuh dari jaringan sosial-keagamaan yang mengakar hingga tingkat paling bawah.
“Saya kira itu salah satu bagian paling menarik dan menyentuh dari pidato Pak Prabowo. Beliau memberikan penghormatan bukan hanya kepada ulama besar yang dikenal publik, tetapi juga kepada kiai-kiai kampung yang mungkin namanya tidak pernah muncul di televisi atau media, tetapi setiap hari mengajari anak-anak mengaji, menjaga akhlak generasi kita, merawat kerukunan, dan menjaga kedamaian masyarakat,” katanya.
Menurut Gus Nabil, jaringan kiai, pesantren, musala, dan masyarakat akar rumput merupakan kekuatan besar yang selama puluhan tahun menopang NU sekaligus kehidupan sosial bangsa Indonesia.
“Mereka bekerja dalam senyap, sering kali tanpa meminta apa pun kepada negara, tetapi kontribusinya sangat besar bagi bangsa. Presiden bahkan menyampaikan istilah ‘Jas Hijau’, jangan sekali-kali melupakan jasa ulama,” ujarnya.
Karena itu, Gus Nabil berharap Muktamar ke-35 NU tidak hanya menjadi forum untuk menentukan kepemimpinan organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali memperkuat ruh pengabdian NU.
“NU besar bukan semata-mata karena struktur organisasinya, tetapi karena ketulusan khidmah para kiai dan warga NU sampai ke kampung-kampung. Tugas kita adalah menjaga marwah mereka, menjaga persatuan jam’iyyah, dan memastikan NU tetap menjadi kekuatan moral yang membawa kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara,” pungkas Gus Nabil Haroen.