JAKARTA, (ERAKINI) — Ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan (yoy). Mesin utama penggerak ekonomi adalah lonjakan konsumsi masyarakat saat libur nasional dan Lebaran serta berbagai stimulus pemerintah.
Sementara itu, secara triwulanan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi sebesar 0,77 persen (quarter-to-quarter/qtq) dibandingkan triwulan IV 2025.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi sebesar 2,94 persen.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I 2026 juga ditopang komponen PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto) dengan kontribusi sebesar 1,79 persen, sementara konsumsi pemerintah memberikan kontribusi sebesar 1,26 persen,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Amalia merinci, kinerja konsumsi rumah tangga pada triwulan I 2026 terutama didorong oleh meningkatnya mobilitas penduduk pada momen libur nasional dan hari besar keagamaan seperti Nyepi dan Idul Fitri.
Selain itu, berbagai kebijakan pengendalian inflasi serta stimulus yang digelontorkan pemerintah turut mendorong konsumsi, antara lain diskon tiket transportasi, pemberian THR atau gaji ke-14, serta penetapan BI rate pada level 4,75 persen.
Berdasarkan data BPS, pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran restoran dan hotel yang tumbuh 7,38 persen, seiring meningkatnya kegiatan wisata selama periode liburan.
Selain konsumsi rumah tangga, komponen lain yang mendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 dari sisi pengeluaran adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh solid sebesar 5,96 persen. Angka ini didorong oleh investasi pemerintah, antara lain pembangunan terkait prioritas nasional, serta investasi swasta.
Sementara itu, konsumsi pemerintah ikut tumbuh hingga 21,81 persen seiring meningkatnya realisasi belanja pegawai melalui pembayaran gaji ke-14 (THR), serta peningkatan belanja barang dan jasa, terutama melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Lebih lanjut, dari sisi lapangan usaha, BPS mencatat lima sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) triwulan I 2026, yakni industri pengolahan (19,07 persen), perdagangan (13,28 persen), pertanian (12,67 persen), konstruksi (9,81 persen), dan pertambangan (8,69 persen).
Sejumlah sektor juga mencatat pertumbuhan tinggi, seperti akomodasi dan makan minum yang tumbuh 13,14 persen, didorong oleh perluasan cakupan program MBG dan momen libur nasional.
Sektor jasa lainnya tumbuh 9,91 persen seiring meningkatnya perjalanan wisatawan nusantara dan kunjungan wisatawan mancanegara. Adapun sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04 persen, didukung oleh peningkatan mobilitas masyarakat.
Sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 5,04 persen (yoy) pada triwulan I 2026. Kinerja sektor ini didorong oleh industri makanan dan minuman, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional.
“Pertumbuhan sektor industri pengolahan utamanya ditopang oleh meningkatnya permintaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” kata Amalia.
Sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh 6,26 persen (yoy), didorong oleh meningkatnya produksi domestik dan impor.
Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas produksi barang pertanian dan industri pengolahan, impor barang konsumsi, barang modal, dan bahan baku, serta aktivitas belanja masyarakat.
Sektor konstruksi tumbuh 5,49 persen (yoy), didorong oleh peningkatan aktivitas pembangunan oleh pemerintah maupun swasta. Adapun sektor pertanian tumbuh 4,97 persen (yoy) pada periode yang sama.
Secara regional, pada triwulan I 2026, wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, serta Sulawesi mencatat pertumbuhan di atas rata-rata nasional.
Pertumbuhan tertinggi terjadi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara sebesar 7,93 persen, diikuti Sulawesi sebesar 6,95 persen dan Jawa sebesar 5,79 persen (yoy).