SEMARANG, ERAKINI – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KpwBI) Provinsi Jawa Tengah melirik calon investor baru dari negara-negara Eropa hingga Uni Emirat Arab (UEA) untuk menggarap berbagai peluang investasi di provinsi ini. Mereka diundang pada kegiatan Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026, kerjasama BI Jateng dan Pemprov Jateng, yang akan digelar di Kota Semarang pada 11 – 12 Mei mendatang.
Negara-negara calon investor baru itu digarap sebagai peluang untuk terus menumbuhkan perekonomian di Jateng, seiring dinamika geopolitik yang terus dinamis hingga hari ini. Perang Amerika Serikat – Israel versus Iran jadi salah satu dinamika geopolitik yang mempengaruhi kondisi perekonomian di Jateng.
Kepala KPwBI Jateng M. Noor Nugroho tak menampik kondisi geopolitik itu berpengaruh kepada perekonomian domestik.
“Menimbulkan eksposur besar dari sisi ekspor-impor, impor minyak lebih besar, harga terjadi peningkatan, logistik cost global meningkat, biaya trade, insurance naik karena risiko yang meningkat,” kata Noor di Kantor KPwBI Jateng, Rabu (29/4/2026).
Namun demikian, sebutnya, pihaknya bersama Pemprov Jateng berkolaborasi untuk tetap menjaga perekonomian Jateng tetap tumbuh. Salah satunya gelaran rutin CIBJF 2026 bertema “Central Java Thriving: Strengthening Investment and Empowering SMEs for Green and Sustainable Growth”.
CJIBF merupakan agenda tahunan yang menjadi forum strategis dalam mempertemukan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan investor, baik domestik maupun internasional, dalam rangka mendorong realisasi investasi serta memperluas kerja sama perdagangan.
Negara-negara sebagai calon investor baru yang diundang, di antaranya; Swiss, Spanyol, Finlandia hingga UEA. Selain top ten investment seperti Hong Kong, Singapura, Korea Selatan, Jepang hingga Malaysia. Noor menyebut pihaknya telah berkomunikasi dengan perwakilan kedutaan negara-negara tersebut, dan terkonfirmasi akan hadir di Kota Semarang.
“Berbagai peluang investasi di Jateng tercermin pada beberapa sektor unggulan, seperti kawasan industri dan manufaktur, energi baru terbarukan, pertanian dan industri pengolahan pangan, serta pariwisata dan ekonomi kreatif,” sambung Noor.
Dia menjelaskan, pengembangan sektor-sektor tersebut diarahkan untuk mendukung transformasi ekonomi yang berbasis nilai tambah, berwawasan lingkungan, serta berorientasi pada keberlanjutan.
Seiring dengan penguatan fundamental dan arah pengembangan tersebut, minat investor terhadap Jawa Tengah juga terus menunjukkan peningkatan. Hal ini tercermin dari capaian penyelenggaraan rangkaian CJIBF tahun sebelumnya yang menghasilkan 60 Letter of Intent (LoI) dengan nilai mencapai Rp75,03 triliun. Capaian ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap iklim investasi Jateng yang semakin kondusif dan kompetitif.
“CIBJF digelar sebagai respons atas tingginya minat tersebut, upaya fasilitasi investasi terus diperkuat melalui penyelenggaraan forum promosi yang lebih terarah dan terintegrasi,” ungkap Noor.
Selain penguatan investasi, upaya akselerasi ekonomi daerah juga dilakukan dengan mendorong koridor perdagangan melalui peningkatan daya saing UMKM. KPwBI Jateng juga akan menggelar kegiatan UMKM Grande 2026, pada 7 hingga 11 Mei mendatang di Kota Semarang.