Search

Harga Emas Dunia Ambruk Parah Akibat Perang AS-Israel vs Iran, Terburuk dalam 40 Tahun

JAKARTA, (ERAKINI) – Harga emas dunia ambruk parah dan nyaris menghapus seluruh kenaikan sepanjang tahun 2026. Ambruknya harga emas dunia dipicu semakin meningkatnya ketegangan perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran yang kini memasuki pekan keempat 

Pada Minggu (22/3/2026) malam, kontrak berjangka emas (GC=F) turun sekitar 4%. Logam mulia ini berbalik arah dari aset dengan momentum kuat di awal tahun menjadi instrumen yang tertekan di tengah gejolak geopolitik.

Harga emas spot bahkan sempat jatuh hingga 3,8% ke level USD4.320,30 per ons, hanya sedikit di atas posisi penutupan akhir tahun 2025 di angka USD4.319,37 per ons. Secara mingguan, emas telah anjlok lebih dari 10%, menjadi penurunan terburuk dalam 40 tahun atau sejak 1983.

“Ini adalah aksi jual yang sangat brutal,” ujar Greg Shearer, Kepala Strategi Logam Dasar dan Logam Mulia di JPMorgan.

Menurutnya, penurunan tajam ini mencerminkan emas yang terseret dalam fenomena “sell everything trade” atau aksi jual besar-besaran di berbagai kelas aset.

Tekanan terhadap emas juga datang dari penguatan dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi global. Sejak awal konflik, harga emas telah turun lebih dari 14%, karena sifatnya yang tidak memberikan imbal hasil membuatnya kurang menarik dibanding aset lain.

“Dalam jangka pendek, penguatan dolar AS dan likuiditas emas yang tinggi dapat menjadikannya sebagai sumber dana saat terjadi tekanan pasar,” kata Ewa Manthey, Strategis Komoditas ING.

Lonjakan harga minyak akibat konflik turut meningkatkan risiko inflasi dan mengurangi peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat oleh Federal Reserve AS maupun bank sentral lainnya—faktor yang semakin membebani emas.

Meski demikian, kekhawatiran lain muncul dari potensi perubahan sikap bank sentral. Selama ini, pembelian emas oleh bank sentral menjadi penopang utama pasar, namun tekanan likuiditas memicu kekhawatiran akan pergeseran tren tersebut.

“Saya pikir ada kekhawatiran bahwa kombinasi tekanan ekonomi, energi, dan nilai tukar dapat memicu perubahan besar dalam arus serta pola pembelian emas oleh bank sentral,” tambah Shearer.

Dalam jangka pendek, emas juga tercatat telah melemah selama delapan sesi berturut-turut. Penurunan ini sebagian dipicu oleh aksi jual paksa, ketika investor melepas emas untuk menutup kerugian di aset lain.

Pergerakan emas yang fluktuatif mencerminkan kondisi pasar global yang juga tidak stabil. Harga minyak mentah bergerak di dekat level tertinggi sejak pertengahan 2022, sementara pasar saham mengalami volatilitas tinggi sejak konflik pecah pada 28 Februari.

Meski tertekan dalam jangka pendek, analis JPMorgan masih melihat prospek positif untuk emas dalam jangka panjang.

“Semakin lama gangguan energi berlangsung dan semakin besar dampaknya terhadap inflasi serta pertumbuhan ekonomi, kami melihat prospek emas dapat berbalik menjadi sangat bullish,” tulis analis JPMorgan.

Mereka menambahkan, pelemahan ekonomi berpotensi mendorong Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan moneternya, dengan fokus pada stabilitas ketenagakerjaan.

Sementara itu, tekanan juga melanda logam lainnya. Perak (SI=F) dan tembaga (HG=F) mencatat penurunan tajam di tengah kekhawatiran melemahnya permintaan global.