Pakar Sebut ODOL Ancam Keselamatan Masyarakat dan Ekonomi Nasional
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Praktik truk Over Dimension dan Overload (ODOL) masih merajalela di berbagai ruas jalan utama di Indonesia. Padahal, kebijakan Zero ODOL telah dicanangkan pemerintah sejak beberapa tahun lalu. Namun, lemahnya implementasi dan pengawasan membuat pelanggaran ini terus berlangsung sehingga mengancam keberlanjutan infrastruktur dan keselamatan masyarakat.
Pakar Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Rossanto Dwi Handoyo, PhD, menilai bahwa persoalan ODOL bukan hanya soal teknis transportasi, tetapi telah menjadi masalah sistemik yang berdampak besar pada ekonomi nasional.
“Kerusakan jalan akibat truk ODOL telah menelan biaya negara hingga Rp43 triliun per tahun. Ini bukan angka kecil, dan sayangnya justru terus membesar karena lemahnya penegakan aturan,” ujar Rossanto seperti dikutip dari situs resmi Unair
Ancaman serius terhadap keselamatan masyarakat
Rossanto menambahkan, truk ODOL tidak hanya merusak jalan, tetapi juga menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan lalu lintas yang fatal. “Kita bicara soal nyawa. Truk ODOL bukan cuma masalah logistik, tapi soal keselamatan publik,” tegasnya.
Dia menyoroti lemahnya pengawasan di lapangan, seperti jembatan timbang yang tak berfungsi maksimal, pengawasan yang inkonsisten, hingga pungutan liar yang menjadikan aturan hanya sekadar formalitas belaka.
Desak pemerintah bentuk Satgas Khusus
Rossanto mendorong pemerintah membentuk satuan tugas lintas kementerian yang berfungsi khusus untuk mengawasi dan menindak praktik ODOL. Selain itu, pelibatan publik dalam pengawasan dinilai penting.

















