Apa Itu Beras Fortifikasi yang Kini Marak Dipalsukan?
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) — Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengungkap temuan puluhan merek beras fortifikasi abal-abal alias palsu.
Dari 27 merek yang diperiksa melalui pengujian laboratorium, sebanyak 25 merek disebut tidak memenuhi standar kandungan fortifikasi. Produk-produk tersebut juga menjadi perhatian terkait ketentuan izin edar dan kesesuaian informasi yang tercantum pada label.
Kerugian akibat temuan 25 merek beras fortifikasi yang tidak sesuai dengan standar itu tidak main-main. Menurut Amran, kondisi tersebut berpotensi merugikan konsumen dengan nilai mencapai Rp89 triliun
Pemerintah kemudian mengambil sejumlah langkah, antara lain menarik produk dari peredaran, mencabut izin, serta memproses pihak-pihak yang diduga terlibat.
Temuan tersebut menjadi sorotan karena beras fortifikasi sejak awal dikembangkan sebagai salah satu bagian dari upaya pemenuhan gizi masyarakat, khususnya kelompok rentan dan anak yang berisiko mengalami stunting.
Beras fortifikasi adalah beras yang diperkaya dengan vitamin dan mineral tertentu untuk meningkatkan kandungan gizinya. Fortifikasi dilakukan dengan menambahkan zat gizi melalui bahan fortifikan sehingga beras yang dikonsumsi masyarakat dapat memberikan tambahan nutrisi.


















