Terpilihnya Destry Damayanti (kiri) sebagai Gubernur BI dan Aida S Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior BI bukan sekadar pergantian kepemimpinan di tubuh bank sentral. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) — Babak baru kepemimpinan Bank Indonesia (BI) resmi dimulai. Untuk pertama kalinya, seorang perempuan berada di kursi tertinggi bank sentral, berdampingan dengan perempuan lain di posisi Deputi Gubernur Senior.
Terpilihnya Destry Damayanti sebagai Gubernur BI dan Aida S Budiman sebagai BI bukan sekadar pergantian kepemimpinan di tubuh . Duet perempuan tersebut menandai menguatnya keterwakilan perempuan di posisi strategis sektor keuangan Indonesia.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menilai kehadiran dua perempuan dalam jajaran teratas Dewan Gubernur BI merupakan perkembangan positif. Menurut dia, semakin banyaknya perempuan yang dipercaya menduduki posisi strategis menunjukkan bahwa kompetensi dan kapasitas perempuan semakin mendapat ruang dalam pengambilan keputusan di sektor keuangan.
“Saya senang Bu Destry terpilih sebagai Gubernur Bank Indonesia. Bu Aida sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Juga untuk Pak Solikin, saya ucapkan selamat. Terutama juga senang makin banyak perempuan Indonesia yang memegang posisi yang penting,” kata Friderica, yang akrab disapa Kiki, Jumat (28/8/2026).
Terpilihnya Destry jelas memiliki arti khusus. Ia menjadi perempuan pertama yang dipilih secara definitif untuk memimpin Bank Indonesia. Destry akan mengemban jabatan Gubernur BI untuk periode 2026-2031 setelah Komisi XI DPR RI memberikan persetujuan dalam rapat internal pada Kamis (27/8).
Kehadiran keduanya sekaligus memperlihatkan perubahan lanskap kepemimpinan sektor keuangan nasional. Perempuan tidak lagi sekadar menjadi bagian dari struktur pengambil kebijakan, tetapi mulai berada di pusat pengambilan keputusan yang berkaitan dengan stabilitas moneter, sistem keuangan, hingga perekonomian nasional.
Bagi Kiki, pengalaman dan komunikasi yang telah terbangun antara OJK dengan Destry dan Aida menjadi modal penting untuk memperkuat koordinasi antarlembaga.
“Insya Allah koordinasi dan kerja sama akan semakin baik. Selama ini kan dengan Bu Destry, Bu Aida sudah sangat baik komunikasinya. Sekarang Bu Destry menjadi Gubernur, saya Ketua OJK, banyak sekali yang bisa disinergikan dan dikolaborasikan,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut menjadi semakin penting di tengah tantangan sektor keuangan yang terus berkembang. BI dan OJK memiliki peran yang saling berkaitan dalam menjaga stabilitas sistem keuangan, merespons dinamika ekonomi, serta memperkuat ketahanan sektor keuangan nasional.
Dari sisi perjalanan karier, Destry bukan sosok baru dalam lingkaran kebijakan ekonomi dan moneter Indonesia. Sebelum terpilih sebagai Gubernur BI, ia telah menjadi bagian dari kepemimpinan bank sentral dan dipercaya menjalankan tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri secara sukarela karena alasan pribadi pada 25 Juli 2026.
Ketiganya selanjutnya akan ditetapkan melalui Rapat Paripurna DPR RI pada 1 September 2026 untuk menjalankan masa jabatan 2026-2031.
Bagi kepemimpinan BI ke depan, terpilihnya Destry dan Aida membawa pesan yang lebih luas dari sekadar pergantian pejabat. Dua perempuan kuat tersebut kini berada di jantung kebijakan bank sentral dan harus siap menghadapi tekanan ekonomi global, menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, serta memastikan sistem keuangan tetap kokoh.
Di saat yang sama, kehadiran mereka menjadi simbol bahwa ruang kepemimpinan strategis di sektor keuangan Indonesia semakin terbuka bagi perempuan.