Fenomena Surplus Tausiyah Defisit Uswah di Bulan yang Penuh Berkah
Fawaizul Umam
Umat Islam di seluruh dunia tengah melaksanakan puasa Ramadhan 1445 H. Rukun Islam ke-4 ini merupakan momentum yang sangat ditunggu-tunggu, salah satunya karena di bulan Ramadhan tersebut ada keutamaan dan keistimewaan yang tidak ada di bulan lainnya. Sebut saja malam seribu bulan dan pahala yang berlipatganda.
Salah satu penanda lazim bulan suci Ramadhan yaitu maraknya majelis-majelis tausiyah di berbagai tempat yang menghadirkan tokoh agama atau penceramah. Penyampaian ceramah biasanya berisi nasihat atau wasiat-wasiat keagamaan (tawshiyah) dengan aneka rupa penamaan majelis, seperti pengajian, tabligh, kultum, khutbah, siniar religi, dan semacamnya.
Majelis-majelis tausiyah semacam itu tidak hanya berlangsung di bulan Ramadhan. Hampir setiap setiap saat, umat rutin disodori “siraman rohani” itu. Di televisi, radio, dan lini media sosial, nasihat-nasihat keagamaan banjir menyapa. Belum lagi di momen-momen seperti khutbah jumat atau even-even pengajian dalam rangka perayaan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an, Haflatul Imtihan, dan lain-lain. Dan di bulan suci ini, berbagai bentuk “hidangan” rohani itu lebih terasa overload menjejali keseharian umat.
Dalam hal tausiyah, kita memang surplus. Panen berlebihan sehingga aneka majelis tausiyah cenderung menjadi hal rutin. Heboh ketika majelis berlangsung, lalu senyap dan umat kembali ke rutinitasnya. Nyaris tidak ada perubahan atau perbaikan pada diri umat seusai mengikuti majelis demi majelis itu.


















