Flu dan Batuk Kala Berhaji
Masmuni Mahatma
Berhaji, sedianya berkait dengan istitha'ah (kemampuan) berkualitas tiap hamba dari pelbagai aspek. Siapa saja yang tunaikan ibadah haji, tidak cukup hanya mampu secara sosio-ekonomi, sosio-religi, melainkan juga dalam sosio-kesehatan jasmaniyah. Sebab ibadah haji, disamping aktualisasi dan edukasi spiritualitas juga berkait langsung dengan "ritual fisik" yang tak bisa diabaikan.
Fisik yang kuat, sehat, dan berkualitas akan ikut mewarnai dan (bahkan) menentukan ibadah haji yang lebih tercerahkan. Karena tubuh atau fisik yang sehat akan menjadi ruang "pengolahan" jiwa untuk senantiasa segar selama berhaji. Persis seperti kata pepatah, "men sana in corpore sano." Atau "al-Aqlu al-salim fi al-jismi al-salim."
Oleh karena itu, kesehatan fisik jamaah haji, tidak bisa dipandang sepele. Harus menjadi perhatian dan edukasi tersendiri bagi kita. Sebab kesehatan fisik, akan menjadi taruhan bagaimana tiap-tiap jamaah melaksanakan tahapan rukun dan wajib haji secara utuh. Terlebih bagi mereka yang secara usia terkategori kurang ideal dan mempunyai keterbatasan.
Penyakit Musiman
M. Yunus, salah satu petugas haji 1444 H/2023 M, santai berucap bahwa flu, batuk, dan demam ringan, seperti menjadi penyakit musiman atau "stempel" tersendiri bagi mereka yang tunaikan ibadah haji. Ini nyata tiap musim haji, baik petugas maupun jamaah haji, pasti familiar dengan penyakit dimaksud. Tak mengenal usia muda dan tua, badan kekar dan ramping, pejabat dan rakyat, kaya dan miskin. Itulah realita. Bukan diada-ada.
Namanya penyakit, seringkali memang tidak bisa dihindari. Sebagai makhluk lemah, penuh keterbatasan, sarat kekurangan, kita pasti akan terimbas. Semua terpulang pada kesiapan pikir, mental, dan moralitas kehambaan kita menyikapi. Obyektif dan penuh syukur menempatkan kehadiran penyakit tersebut, akan membuat diri kita senantiasa tabah, sabar, dan jauh dari kepanikan.
Sebaliknya, bila diantara kita tidak obyektif lalu menganggap flu, batuk, dan demam ringan sebagai realitas destruktif, tentu cepat mengindikasikan "kepanikan." Di sini akan timbul problematika, mulai dari hilangnya kesabaran dalam diri sampai terjadi disorientasi selama berhaji. Ini yang akan menyebabkan ibadah haji kurang terarah dan jauh dari kualitas luhurnya. Ini yang berisiko secara moralitas dan spiritualitas berhaji.



















