Rikal Dikri
Peserta PPIH Angkatan Pertama, Kementerian Haji dan Umrah RI
Di Padang Arafah, pada 9 Dzulhijjah 10 Hijriah, Rasulullah ﷺ berdiri di hadapan puluhan ribu manusia. Matahari menyengat, udara padat oleh doa dan air mata. Di tengah khutbah perpisahan yang akan menjadi penutup risalah kenabian, Nabi ﷺ menyebut satu nama yang membuat semua orang terdiam: Abbas bin Abdul Muthallib—paman beliau sendiri.
Dengan suara tegas, Nabi ﷺ menyatakan bahwa seluruh praktik riba jahiliyah dihapuskan, dan riba pertama yang beliau hapus adalah riba Abbas bin Abdul Muthallib. Tidak ada pengecualian, tidak ada perlindungan keluarga, tidak ada keistimewaan darah.
Di hadapan sejarah, Rasulullah ﷺ mengorbankan kepentingan keluarganya sendiri demi menegakkan keadilan.
Sejak saat itu, Abbas bukan hanya paman Nabi, tetapi simbol bahwa pelayanan, pengabdian, dan keadilan dalam Islam dimulai dari keluarga Nabi sendiri—dan tidak berhenti di sana.
Khutbah Wada’ bukan sekadar khutbah perpisahan. Ia adalah manifesto peradaban. Dan menyebut nama Abbas di dalamnya bukan kebetulan. Abbas bin Abdul Muthallib adalah figur sentral dalam sejarah pelayanan haji. Sebelum Islam, ia memegang amanah siqayah—penyediaan air bagi jemaah haji—sebuah tugas berat dan mulia di tengah kerasnya tanah Hijaz.
Ia mewarisi peran itu dari ayahnya, Abdul Muthallib, kakek Rasulullah ﷺ, yang dikenal rela mengorbankan harta dan tenaga demi memastikan tamu-tamu Allah tidak kehausan dan terlantar.
Di sinilah garis merah itu bermula: keluarga Nabi adalah keluarga pelayanan. Mereka tidak mewariskan istana, tetapi amanah. Mereka tidak membangun kekuasaan, tetapi pengabdian. Dari Abdul Muthallib, Abu Thalib, Abbas, hingga Muhammad ﷺ, tradisi itu hidup dalam satu kata: khidmah—melayani manusia demi Allah.
Ketika Islam datang, tradisi pelayanan haji tidak dihapus. Ia dimurnikan. Dari simbol kehormatan kabilah menjadi ibadah. Dari kebanggaan sosial menjadi tanggung jawab spiritual. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa melayani jemaah haji bukan pekerjaan rendah, melainkan bagian dari iman.
Dalam banyak riwayat, Nabi menegaskan bahwa menolong musafir, orang lemah, dan tamu Allah adalah amal besar yang mendekatkan manusia kepada-Nya.
Haji sendiri adalah ibadah yang unik. Ia mempertemukan ritual dan sosial dalam satu tarikan napas. Di Arafah, semua manusia berdiri setara—tanpa gelar, tanpa pangkat, tanpa jarak. Di Muzdalifah, manusia belajar sabar dalam keterbatasan.
Di Mina, manusia melatih diri melawan simbol kejahatan dan hawa nafsu. Di tengah seluruh proses itu, ada satu kelompok yang sering luput dari sorotan: para pelayan jemaah, para petugas haji.
Menjadi petugas haji bukan sekadar tugas teknis. Ia adalah kelanjutan langsung dari tradisi keluarga Nabi. Jika Abbas menyediakan air, petugas hari ini menyediakan akses, informasi, perlindungan, dan rasa aman.
Jika Abdul Muthallib menjamin kehormatan tamu Allah, petugas hari ini menjaga martabat jemaah di tengah sistem yang kompleks dan kerumunan masif. Esensinya sama, konteksnya berbeda.
Khutbah Wada’ memberi fondasi etik bagi semua itu. Nabi ﷺ menegaskan kesucian darah, harta, dan kehormatan manusia. Prinsip ini bukan teori, tetapi panduan praktis bagi pelayanan haji. Setiap jemaah yang dilayani bukan sekadar “peserta”, tetapi manusia yang kehormatannya wajib dijaga.
Setiap keputusan petugas adalah keputusan moral. Setiap kelalaian kecil bisa berdampak besar pada pengalaman spiritual seseorang.
Dalam khutbah itu pula, Nabi ﷺ menghapus seluruh praktik jahiliyah: dendam darah, riba, dan ketidakadilan struktural. Ketika beliau memulai penghapusan riba dari keluarga sendiri, beliau mengajarkan bahwa keadilan harus dimulai dari dalam. Bagi petugas haji, pesan ini berarti integritas.
Tidak ada ruang untuk penyalahgunaan wewenang, manipulasi fasilitas, atau mendahulukan kepentingan pribadi. Amanah haji adalah amanah publik dan amanah ilahi sekaligus.
Rasulullah ﷺ juga menaruh perhatian besar pada amanah dan tanggung jawab. “Tunaikanlah amanah kepada yang berhak,” demikian pesan beliau. Dalam konteks haji modern, amanah itu menjelma dalam hal-hal konkret: kejujuran data, ketepatan layanan, kesabaran menghadapi jemaah lansia, dan empati kepada mereka yang kelelahan atau kebingungan. Pelayanan haji bukan ruang untuk ego, melainkan ruang untuk mengikis ego.
Salah satu bagian paling revolusioner dari Khutbah Wada’ adalah penegasan kesetaraan manusia. Tidak ada keutamaan Arab atas non-Arab, putih atas hitam, kecuali takwa. Pernyataan ini menjadikan haji sebagai laboratorium anti-diskriminasi terbesar dalam sejarah. Petugas haji berdiri di garis depan praktik nilai ini. Mereka melayani tanpa memilih, menolong tanpa membeda-bedakan, dan mengayomi tanpa prasangka.
Nabi ﷺ juga mengingatkan tentang hak perempuan dan kewajiban laki-laki. “Bertakwalah kalian kepada Allah dalam urusan perempuan,” sabda beliau. Dalam konteks haji, pesan ini sangat relevan. Banyak jemaah perempuan—terutama lansia—yang berada dalam posisi rentan. Cara petugas melayani mereka adalah cermin sejauh mana pesan Nabi itu dihidupkan.
Lebih jauh, Nabi ﷺ mengingatkan bahwa setan mungkin putus asa untuk disembah, tetapi tidak pernah putus asa menggoda manusia melalui dosa-dosa kecil. Dalam pelayanan haji, dosa kecil itu bisa berupa kata kasar, sikap acuh, atau merasa lebih tinggi dari jemaah.
Justru hal-hal kecil inilah yang merusak ruh ibadah. Karena itu, menjadi petugas haji sejatinya adalah latihan spiritual yang berat sekaligus mulia.
Barak petugas haji, dengan segala keterbatasannya, adalah madrasah kemanusiaan. Di sanalah kesabaran diuji, solidaritas dibangun, dan nilai-nilai Khutbah Wada’ dipraktikkan dalam bentuk paling nyata. Petugas belajar bahwa melayani manusia berarti siap disalahpahami tanpa membalas dengan amarah. Siap lelah tanpa pamrih. Siap memberi tanpa menuntut balasan.
Pada akhirnya, menjadi petugas haji adalah memilih berdiri di jalur sunyi tradisi keluarga Nabi. Jalur yang tidak selalu terlihat, tidak selalu dipuji, tetapi menentukan kualitas peradaban.
Jika haji adalah perjalanan manusia menuju Tuhan, maka petugas haji adalah penjaga jalan itu. Dan selama masih ada orang-orang yang melayani tamu Allah dengan hati yang bersih, tradisi Abbas bin Abdul Muthallib yang disebut di Padang Arafah itu tidak akan pernah putus.
Ia hidup—dalam langkah-langkah kecil pelayanan, dalam kesabaran yang tidak tercatat, dan dalam keikhlasan yang hanya disaksikan oleh Allah.