Menggali Kesejatian (1): Coretan Pembuka
Hamdan Juhannis
Anda pasti menunggu hadirnya coretan Ramadan saya kan? Kalau pertanyaan ini serius, itu sudah pasti diakibatkan oleh sebuah penyakit yang disebut: GR (Gede Rasa), atau pengidapnya merasa hebat, merasa tulisannya dibutuhkan oleh pembaca.
Jelasnya, saya tidak GR, karena saya yakin anda tidak menunggu tulisan saya. Saya yang menunggu momentum Ramadan ini untuk mencoret tulisan berseri. Saya yang mengharapkan Anda memplototi coretan saya, atau paling tidak melihat sepintas atau membaca judulnya, atau sudah syukur kelihatan di group bahwa anda sudah membukanya.
Mungkin juga anda tidak sadar saya menulis lagi dengan ditemukannya coretan ini. Mungkin juga anda sedikit terkejut, karena tiba-tiba saya hadir lagi. Atau ada yang menganggapnya biasa karena kebiasaan saya bercoloteh tiap Ramadan. Betul, ini Ramadan ke sembilan, sejak saya memulai kebiasaan ini.
Tahun lalu saya membuat tema sentral "bersatu kita teguh" karena Ramadan saat itu menjadi momentum untuk merajut kembali kesatuan setelah dihadapkan pada sebuah perhelatan Pilpres yang memiliki pernak pernik dan keragaman sikap politik yang perlu dikelola dalam bingkai kesatuan dalam keragaman.
Ramadan kali ini saya melanjutkan dengan tema yang saya sendiri masih mencari maknanya, "Menggali Kesejatian." Mungkin maksud saya, kesejatian itu adalah hal yang sesungguhnya dalam diri, bahasa agamanya adalah: "".



















