Microtonality: Harmoni Nada Sumbang
Farid Mustofa
Tidak semua keindahan dalam musik lahir dari keteraturan. Kadang ada bunyi-bunyi "meleset", "tidak pas", "sumbang" tapi justru menyentuh. Fenomena ini namanya microtonality, penggunaan nada-nada kecil (mikroton) dengan interval lebih kecil dari satu semitone (setengah nada) (Wikipedia).
Tidak persis C atau C#, tapi di antara keduanya, seperempat, bahkan seperdelapan. Dalam musik gamelan, India, Timur Tengah, atau bahkan jazz dan blues, mikroton inilah yang memberi rasa getir, liris, melankolis, bahkan magis.
Para penyanyi kadang menyelipkan mikroton, menyengaja sedikit “fals”. Disonansi yang justru lebih mengekspresikan luka, harap, dan keberanian untuk tak sempurna. Maka dalam banyak rekaman, nada-nada sumbang ini tidak dihilangkan, malah dijaga, karena di sanalah rasa tinggal. Perhatikan Krisdayanti menyanyikan Menghitung Hari.
Kehidupan pun mengandung microtonality, nada-nada sumbang yang justru membentuk harmoni. Bukan seperti harmoni musik yang tercipta dari keteraturan, tapi harmoni yang ditangkap dengan keheningan batin. Di sinilah kita mulai mendengar musik yang lebih besar...
Orkestrasi Semesta
Musik tersusun atas melodi, rangkaian nada yang berdiri sendiri, dan harmoni, gabungan nada yang melahirkan keselarasan. Jika ditambah ritme atau pola ketukan akan terbentuk struktur utuh yang punya kekuatan rasa. Proses menyatukan dan membuatnya indah itulah yang disebut orkestrasi.



















