Ya Cholil, Ya Dhuyuf Al-Rahman
Ahmad Zainul Hamdi
Video itu hanya berdurasi beberapa detik. Tampak di dalamnya wajah Gus Menteri, Yaqut Cholil Qoumas, berpakaian petugas haji. Wajahnya tampak gusar. Kekesalannya tak bisa ditutupi. Beberapa detik kemudian, suara baritonnya keluar, “Gak usah bicara kompensasi dengan kami. Kita gak butuh kompensasi.”
Itu adalah gelegar Guntur. Tuntutan yang keluar dari bibir seseorang yang hatinya dipenuhi kemarahan adalah guruh yang muncul di langit kelam. Tak ada yang bisa diharapkan selain tumpahnya hujan yang akan menjadi banjir. Tahukah kalian kekuatan air yang telah menjadi banjir? Tembok sekokoh apa yang bisa menahannya?
Sebuah tuntutan yang tidak lagi mau menerima kompensasi adalah sebuah kemutlakan. Tak ada tawar menawar. Semua harus dipenuhi. Tidak ada alasan pengurangan. Tidak juga alasan penundaan. Semua harus menepati janji. “Bukan nanti! Sekarang!” Begitulah gelegarnya.
Tampak semua wajah meriut. Suara-suara tercekat di tenggorokan, harus dikeluarkan ataukah ditelan kembali?
*
Itu adalah short video yang saat ini sedang viral tentang kemarahan Gus Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, kepada penyedia layanan jamaah haji Indonesia. Mungkin banyak yang tidak tahu, apa yang terjadi di balik kemarahan itu.
Mungkin banyak dari Anda membatin, bukankah itu merendahkan marwah seorang menteri? Mengapa dia tidak menjaga citranya sebagai menteri sehingga menumpahkan kemarahannya di depan orang-orang yang “gak level” dengannya?
Dalam berbagai kesempatan, Gus Men menasihati kami, “Jangan letakkan martabat di atas jabatan”. Baginya, martabat seseorang sama sekali tidak ditentukan dari jabatannya. Dengan jabatan, mungkin seseorang akan dihormati, bahkan kakinya dijilati oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi apakah dengan sendirinya dia manusia terhormat? Belum tentu. Kehormatan seseorang ditentukan dari tindakannya, bukan jabatannya. Jabatan seseorang akan menjadi kehormatan bagi orang tersebut jika dia menjalankan fungsi jabatannya dengan profesional dan amanah.



















