Farid Mustofa
Staf Pengajar Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada (UGM).
Isra’ Mi’raj salah satu peristiwa penting dalam sejarah kenabian. Di dalamnya, Nabi Muhammad SAW tidak hanya melakukan perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual. Beliau diperjalankan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, kemudian naik ke langit menerima perintah salat. Semua itu terjadi dalam satu malam.
Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-10 kenabian, setelah Nabi mengalami dua kesedihan besar wafatnya Abu Thalib dan Khadijah. Umat Islam memperingatinya setiap tanggal 27 Rajab. Dalam Al-Qur’an, kisah ini disinggung dalam dua tempat.
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha.” (QS. An-Najm: 13-14)
Ayat ini menjadi bagian penegasan bahwa Nabi benar-benar mengalami pertemuan dengan Jibril dalam perjalanan spiritualnya. Banyak ulama menafsirkan Sidratul Muntaha adalah batas akhir ilmu makhluk, di mana hanya Nabi yang diperkenankan melampaui batas tersebut dalam konteks menerima wahyu.
Dalam banyak pengajian, Isra’ Mi’raj sering dibahas sebagai peristiwa mukjizat. Sebuah keistimewaan yang tidak bisa dijelaskan logika biasa. Tapi, selain sebagai mukjizat, peristiwa ini juga bisa dilihat sebagai pengingat bahwa pemahaman manusia terhadap alam semesta sangat terbatas. Justru karena itu mengandung nilai keimanan sekaligus peluang untuk berpikir.
Misalnya soal waktu. Bagaimana mungkin perjalanan sejauh itu, dengan peristiwa besar di dalamnya, bisa terjadi dalam satu malam? Apakah waktu memang bisa berubah-ubah?
Dalam ilmu fisika, waktu tidak bersifat mutlak. Waktu bisa berjalan lebih lambat atau lebih cepat tergantung kecepatan gerak dan pengaruh gravitasi. Konsep ini dijelaskan dalam teori relativitas yang dikembangkan Albert Einstein. Semakin cepat sebuah benda bergerak, semakin lambat waktu terasa bagi benda tersebut dibandingkan dengan pengamat yang diam. Inilah yang disebut efek dilatasi waktu.
Ilustrasi yang sering digunakan adalah dua orang kembar. Jika salah satu pergi ke luar angkasa dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, dan yang lain tetap di bumi, maka waktu akan berjalan lebih lambat bagi si kembar yang pergi.
Saat ia kembali ke bumi, saudaranya mungkin sudah jauh lebih tua. Ini bukan khayalan. Eksperimen ilmiah dengan satelit dan jam atom sudah membuktikan efek ini.
Jika pemahaman ini digunakan untuk membaca Isra’ Mi’raj, bukan tidak mungkin waktu yang dialami Nabi memang berbeda. Bagi orang-orang di bumi, malam itu hanya berlangsung sebentar. Tapi bagi Nabi, perjalanan itu penuh peristiwa dan makna, seolah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.
Cahaya juga memainkan peran penting. Malaikat Jibril, yang mendampingi Nabi dalam perjalanan Mi’raj, disebut dalam banyak hadis sebagai makhluk yang diciptakan dari cahaya. Dalam hadis riwayat Aisyah RA, Nabi bersabda:
“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah disifati kepada kalian.” (HR. Muslim No. 2996)
Cahaya ciptaan Allah yang unik. Bisa bergerak di ruang hampa, tanpa membutuhkan medium apa pun. Kecepatannya sangat tinggi, sekitar 300 ribu kilometer per detik. Dalam satu detik, cahaya bisa mengelilingi bumi lebih dari tujuh kali.
Karena kecepatan itu cahaya memiliki sifat-sifat yang menarik. Menurut fisika, waktu berhenti bagi cahaya. Artinya, jika ada sesuatu yang bisa bergerak secepat cahaya, maka ia tidak akan mengalami waktu seperti kita. Bisa jadi perjalanan Nabi yang sangat cepat itu terjadi dalam kondisi seperti itu.
Perenungan ini bukan untuk mempertanyakan keajaiban Mi’raj, tetapi sebagai bentuk tadabbur. Dalam tradisi Islam banyak ayat mendorong berpikir.
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan?” QS. Al-Ghasyiyah ayat 17.
Ayat itu tidak hanya bicara unta, tapi tentang cara Islam mengajak manusia mengamati ciptaan Tuhan, bertanya, dan memahami. Termasuk dalam hal waktu, cahaya, dan ruang.
Isra’ Mi’raj adalah momen penting yang menghubungkan langit dan bumi, spiritualitas dan ilmu. Salat yang diwajibkan dalam peristiwa itu menjadi bentuk koneksi manusia dan Tuhan. Tapi cara peristiwa itu terjadi juga menjadi pengingat bahwa alam semesta penuh misteri.
Tidak semua hal harus dijelaskan dengan teori. Tapi tidak dilarang untuk mencoba memahami. Justru upaya memahami itu bisa menjadi bentuk ibadah juga, karena kita sedang menggunakan akal yang dianugerahkan Allah.
Isra’ Mi’raj bukan hanya kisah masa lalu tapi pelajaran yang terus hidup. Kita bisa mengambil hikmah dari isinya. Di balik semua itu, ada pesan keimanan, tapi juga ada dorongan untuk berpikir.
Sebagaimana Nabi diperjalankan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah, kita pun diperjalankan waktu, ilmu, dan pengalaman. Bisa jadi, cara kita melihat Isra’ Mi’raj hari ini akan membentuk cara kita melihat hidup. Bahwa ada saatnya menerima, dan ada saatnya merenungkan dengan terus berendah hati.