Menggali Kesejatian (23): Siklus Negeri Gemah Ripah
Hamdan Juhannis
Coretan ini tentang negeri kita, negeri gemah ripah, yang saya sari dari Kultum seorang muballigh kondang kampus, Prof. Barsihannoor. Beliau mengajak jamaah berefleksi tentang pentingnya bersyukur menjadi orang Indonesia. Prof. Barsih menggambarkan kekayaan alam dan keindahan Indonesia, ibarat kehidupan surga yang digambarkan oleh kitab suci.
Prof Barsih lebih jauh mengulas musim di Indonesia yang sangat patut disyukuri. Pembagian waktu siang dan malam yang seimbang, sehingga puasa kita juga berlangsung secara seimbang.
Prof. Barsih mengugah kita, kalau mau merasakan derita panjangnya puasa, silakan pergi berpuasa ke negara Barat pada musim panas, atau ke negara-negara skandinavia, puasanya bisa berlangsung sampai 20 jam. Cuaca negara kita juga sangat bersahabat, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.
Bagi yang sudah berhaji, mungkin sudah pernah merasakan musim panas di tanah Arab, betapa panasnya, dan tidak mungkin bisa tenang tanpa pendingin di kamar. Dan bagi dosen yang pernah belajar di negara Barat, misalnya di Canada, betapa dinginnya di musim dingin, dan tidak membayangkan bisa hidup tanpa pemanas atau perapian.
Di Indonesia, menurut Prof. Barsih orang bisa istirahat di rumah setiap saat tanpa pendingin atau tanpa pemanas. Prof. Barsih melanjutkan dengan mengulas sifat toleransi masyarakat yang tidak didapat dicontoh oleh negara lain.
Misalnya, pada aspek keagamaan, hari pertama puasa bisa berbeda, hari raya juga sudah biasa berbeda. Bahkan ada kelompok yang lebih berbeda lagi hari lebarannya tapi tetap mendapatkan tempat dalam masyarakat.



















