Melepas Muktamar NU dari Jerat Rezim
Moh Ramli
Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar milik warga Nahdliyyin atau para elite PBNU semata. Organisasi yang didirikan oleh Kiai Hasyim Asy'ari satu abad silam ini adalah aset bangsa dan milik siapa saja yang berdiri di atas prinsip kebenaran. Atas dasar itulah jam'iyah ini mampu bertahan, tumbuh, dan relevan hingga hari ini.
Tulisan singkat ini hadir sebagai catatan kritis yang mengajak pembaca melihat arah perjalanan NU secara jernih dan merdeka.
Satu pertanyaan mendasar yang harus dijawab menjelang Muktamar di Jombang adalah: apa masalah utama NU dewasa ini, khususnya di jajaran pimpinan PBNU, hingga citranya sering kali tampak suram di mata publik?
Pertanyaan ini menuntut jawaban jujur, rendah hati, dan dilandasi niat tulus untuk membenahi organisasi. Tanpa keberanian mengevaluasi diri, Muktamar di Kota Santri nanti, terancam sekadar menjadi pesta seremonial belaka. Kepemimpinan NU akan stagnan, atau bahkan mengalami kemunduran yang lebih parah.
Menurut pandangan saya, akar persoalannya terletak pada keterikatan NU yang terlalu jauh dengan rezim yang sedang berkuasa. Ketergantungan para elite pada Istana membuat organisasi ini kehilangan kemerdekaan bersikap.
NU rentan terombang-ambing oleh kepentingan politik praktis jangka pendek yang didorong oleh dahaga akan kedudukan. Akhirnya, disadari atau tidak, prinsip Khittah NU 1984 terus tergerus oleh ulah kadernya sendiri.
Di tengah situasi ini, pandangan Lukman Hakim Saifuddin, patut kita renungkan kembali. Ia menegaskan bahwa relasi NU dan pemerintah harus tetap berjarak.
NU tidak boleh terlalu dekat hingga melekat, tetapi juga tidak boleh terisolasi dari negara. Hubungan keduanya idealnya bersifat simbiosis mutualisme yang tetap menjaga fungsi kontrol dan keseimbangan ( ).



















