Tiga Generasi Pahlawan, Satu Nafas dari Pesantren
Muchamad Nabil Haroen
Muchamad Nabil Haroen
Santri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa, Wakil Ketua Umum PB IPSI
DARI PESANTREN, saya belajar akhlak dan kemandirian. Dari pesantren, saya diajari banyak hal yang tidak tertulis di buku mana pun. Saya diajari akhlak, bagaimana menghormati guru, bagaimana berbicara dengan hati yang jernih, dan bagaimana menjaga adab bahkan dalam perbedaan pendapat. Saya juga diajari kemandirian, bagaimana menanak nasi sendiri, mencuci pakaian sendiri, menata waktu antara belajar dan beribadah, dan yang terpenting: bagaimana bertahan hidup dengan kesabaran.
Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tapi tempat belajar menjadi manusia seutuhnya. Di sana, saya belajar bahwa ilmu tanpa adab adalah kesia-siaan, dan kehebatan tanpa kerendahan hati hanyalah kesombongan yang ditunda waktunya. Di pesantren, kami tidak diajari untuk mencari kemegahan, tapi untuk menjaga makna, sebab kemuliaan sejati bukan dari yang tampak, tapi dari yang tertanam dalam niat.
Karena itu, ketika berbicara tentang tiga generasi pahlawan nasional dari keluarga Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari -yakni beliau sendiri, putranya KH Wahid Hasyim, dan cucunya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)- saya tidak memandang mereka sekadar tokoh sejarah. Bagi saya, mereka adalah cerminan hidup dari nilai-nilai pesantren itu sendiri: akhlak, kemandirian, dan pengabdian tanpa pamrih. Mereka membuktikan bahwa santri tidak berhenti di langgar, tapi bisa menembus ruang sejarah bangsa.



















