Haji Sentilun: Besek Kenduri Tak Pernah Salah Sasaran
Prof Dr KH Muhammad Ishom, M.A.,
Prof Dr H Muhammad Ishom, M.A.
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Semalam, Pak RT menggelar kenduri yang, menurut ukuran kampung, sudah lebih dari cukup untuk disebut khidmat. Undangan disebar rapi, doa dipersiapkan matang, dan berkat ditata dengan penuh harap dalam besek bambu. Semua berjalan sesuai pakem: sederhana, tertib, dan sarat niat baik. Kenduri, seperti biasa, dimaksudkan sebagai penanda kebersamaan dan harapan akan keberkahan yang bisa dibagi rata.
Hanya saja, tradisi hampir selalu punya jarak dengan realitas. Dari sekian warga yang diundang, sebagian memilih tak menampakkan diri. Alasannya tak pernah benar-benar jelas. Bisa karena sibuk, bisa karena lupa, atau mungkin karena merasa kehadirannya tak terlalu berpengaruh pada langit yang akan mengamini doa.
Pak RT, yang sudah lama kenyang pengalaman menghadapi dinamika warganya, memilih tak larut dalam kekecewaan. Baginya, berkat yang disiapkan dengan doa tak pantas berakhir basi. Ia pun mengambil keputusan praktis: berkat yang tersisa dibagikan kepada warga yang tak sempat hadir. Amanat itu disampaikan singkat, tanpa catatan teknis yang terlalu rinci.
Masalahnya, waktu sudah jauh malam. Rumah-rumah gelap, pintu tertutup rapat, dan sebagian warga mungkin sudah terlelap dalam tidur yang tak ingin diganggu urusan kenduri. Membagikan berkat satu per satu terdengar ideal, tetapi berpotensi menimbulkan keributan baru. Tidak semua orang senang dibangunkan atas nama kebaikan.


















