Nadya Andini kembali membuktikan keterbatasan fisik bukan penghalang meraih prestasi. Ia meraih gelar sarjana dalam waktu 3,5 tahun dan IPK cumlaude. Foto: ITS/Dok
JAKARTA, (ERAKINI) - Nadya Andini kembali membuktikan keterbatasan fisik bukan penghalang meraih prestasi. Meski terlahir dengan kondisi kurang pendengaran (tunarungu), ia bisa menyelesaikan pendidikan sarjana dalam waktu 3,5 tahun dan meraih predikat cumlaude.
Nadya Andini merupakan satu satu peserta Wisuda ke-129 () baru-baru ini. Wisudawan yang berasal dari Departemen Studi Pembangunan itu berhasil lulus dengan raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,88 atau hampir mendekati sempurna.
Meski dalam keadaan kurang pendengaran, Nadya Andini membuktikan tekad yang luar biasa dalam menempuh pendidikan setinggi mungkin. Namun, perjalanan Nadya tidaklah mudah.
Sebagai mahasiswa berkebutuhan khusus, dia menghadapi berbagai tantangan. Alat bantu dengar yang dia gunakan terkadang kurang banyak membantu. Karena itu, ia selalu duduk di bangku paling depan untuk merekam penjelasan dosen dengan ponselnya.
“Di rumah, saya minta bantuan mama untuk mendengarkan rekaman tadi dan menjelaskannya ulang,” ujar Nadya, sebagaimana dikutip dari laman resmi ITS, Rabu (1/5/2024).
Selain itu, beradaptasi di lingkungan mayoritas orang normal juga menjadi hambatan baginya. Gadis berkacamata tersebut tak jarang merasa kewalahan ketika berkomunikasi dengan teman-temannya.
“Teman-teman terkadang susah menangkap kalimat saya karena pelafalan yang kurang jelas, saya pun lumayan sulit untuk mendengar hal yang mereka sampaikan,” ungkap Nadya.
Ambisi dan semangat dalam diri Nadya rupanya berhasil membawanya berkembang menjadi sosok yang lebih percaya diri. Gadis kelahiran Pamekasan, 24 Mei 2001 ini juga banyak mencoba hal baru di luar akademik, salah satunya mengikuti perlombaan.
Ia pernah berpartisipasi dalam Pagelaran Mahasiswa Nasional Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (Gemastik) Karya Tulis Ilmiah sebanyak dua kali dengan membawa rancangan aplikasi tunarungu.
Selain aktif dalam kegiatan nonakademik, Nadya juga giat mengikuti program magang yang diselenggarakan di dalam maupun di luar kampus. Program yang diikutinya antara lain adalah Kredensial Mikro Mahasiswa Indonesia (KMMI) 2021 - Short Course Pemetaan Sosial, proyek independen antara Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital (FDKBD) ITS dengan Intako, serta magang mandiri di PDAM Surya Sembada Kota Surabaya.
Di balik kesuksesannya, Nadya selalu diiringi doa dan dukungan dari orang-orang terdekat, terutama sang ibu. Dia berpesan agar kisahnya dapat menjadi inspiratif bagi mereka yang tengah berjuang meraih mimpi.
Pesannya sederhana, namun memotivasi. "Keterbatasan hanya awal dari perjalanan, jangan pernah menyerah dalam meraih cita-cita," katanya.
Pada akhir prosesi wisuda, Nadya berkesempatan menyampaikan pesan dan kesan di hadapan semua wisudawan. Dia mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan dan motivasi yang diberikan oleh para dosen dan teman-temannya di ITS.
Baginya, berkuliah di ITS bukanlah hal yang mudah bagi para disabilitas. Tetapi dengan dukungan dan semangat yang ada, semua menjadi mungkin
"“Dukungan dan motivasi dari para dosen dan teman-teman membawa energi positif bagi saya untuk terus berjuang meraih impian,” ungkapnya yang menerima ijazah langsung dari Rektor ITS.