Tanggapan Dokter Soal Fenomena War Takjil Jelang Buka Puasa
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Beberapa hari ini media sosial diramaikan dengan fenomena war takjil jelang berbuka puasa Ramadhan. Berburu menu buka puasa selama ini identik dengan umat Islam, namun pada fenomena war takjil ini umat non Islam atau nonis juga ikut ‘bersaing’ memburu makanan khas lokal Indonesia tersebut.
Bahkan di media sosial, fenomena ini menjadi bahan candaan, antara umat Islam dan non Islam. Saking senangnya, beberapa orang nonis mengaku memburu takjil sejak pukul 14.00 siang. Hal ini kemudian membuat netizen riuh hingga bersaut-sautan di kolom komentar.
Menanggapi ramainya fenomena war takjil tersebut, dr Rudy Kurniawan, SpPD mengatakan, fenomena war takjil menjadi keseruan tersendiri selama bulan Ramadhan. Tapi dia mengingatkan masyarakat agar tetap memperhatikan asupan makanan jelang berbuka puasa.
“War takjil mencerminkan budaya makanan lokal yang harus tetap dilestarikan. Namun, konsumsinya harus tetap diperhatikan agar tidak malah memberikan efek buruk pada kesehatan,” katanya, Minggu (25/3/2024).
Ia kemudian menyoroti banyaknya jenis takjil manis yang banyak dikonsumsi masyarakat. dr Rudy menuturkan bahwa mengonsumsi makanan manis dalam jumlah moderat masih diperbolehkan. Namun, dalam kebanyakan kasus, tak sedikit orang mengonsumsinya dengan jumlah yang terlalu banyak.
















