Masjid Al-Azhar Jakarta, Ikon Dakwah dan Pendidikan Islam Sejak 1950-an
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Masjid Al-Azhar Jakarta di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan Islam yang berpengaruh di Ibu Kota sejak pertengahan abad ke-20. Kini, masjid tersebut kerap menjadi tempat wisata halal bagi masyarakat di Jabodetabek. Masjid yang kini dikenal luas sebagai Masjid Agung Al-Azhar tersebut mulai dibangun pada 1953 dan selesai pada 1958.
Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh 14 tokoh Partai Masyumi yang kemudian mendirikan Yayasan Pesantren Islam pada 7 April 1952. Upaya itu mendapat dukungan pemerintah, antara lain dari Kementerian Agama dan Gubernur Jakarta saat itu, Sjamsuridjal, yang menyumbangkan lahan seluas empat hektar di kawasan Kebayoran Baru.
Buya Hamka, ulama besar yang turut mengarahkan konsep pembangunan, menekankan pentingnya masjid sebagai pusat aktivitas umat, termasuk pendidikan. Ia kemudian ditunjuk sebagai Imam Besar Masjid Al-Azhar pada 1959, menjadikan masjid ini berkembang sebagai pusat dakwah dan penguatan kehidupan keagamaan masyarakat Jakarta.
Perubahan nama dari Masjid Agung Kebayoran Baru menjadi Masjid Al-Azhar terjadi pada 1960. Dalam kunjungannya ke Indonesia, Imam Besar Al-Azhar Mesir, Syekh Mahmud Syaltut, menyarankan agar masjid itu diberi nama Al-Azhar sebagai bentuk penghormatan atas kiprah Buya Hamka dalam keilmuan dan dakwah.
Seiring waktu, kawasan masjid berkembang menjadi pusat pendidikan Islam terpadu. Pada 1967, TK Al-Azhar didirikan di lingkungan masjid, dan jaringan pendidikannya terus berkembang hingga berdirinya Universitas Al-Azhar Indonesia pada 2000.















