Potret Masjid Jami Gresik, Didirikan Ibu Angkat Sunan Giri dan Jadi Ikon Wisata Halal Jawa Timur
Abdul Rahman Ahdori
GRESIK, (ERAKINI) - Pemerintah tengah mendorong pengembangan wisata halal sebagai salah satu motor penggerak ekonomi daerah. Di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, terdapat sebuah masjid bersejarah yang tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menyimpan nilai sejarah penting perjalanan Islam di tanah Jawa.
Dilansir dari berbagai sumber pada Jumat (12/9/2025), Masjid Jami’ Gresik, yang juga dikenal sebagai Masjid Alun-Alun Gresik, berdiri di Kelurahan Pekauman, Kecamatan Gresik. Masjid ini menjadi saksi perkembangan Islam di wilayah pesisir utara Jawa. Pendirinya tercatat adalah Nyai Ageng Pinatih, ibu angkat Sunan Giri, yang dikenal sebagai tokoh penyebar Islam di kawasan ini.
Dari Pesisir ke Alun-alun
Pada awalnya, Masjid Jami’ Gresik berdiri di kawasan perbukitan dekat pelabuhan, tepatnya sekitar Teluk Lamong. Namun, seiring bertambahnya jumlah jamaah dan kebutuhan akan ruang yang lebih luas, masjid kemudian dipindahkan ke pusat perekonomian sekaligus pemerintahan daerah.
Kini, bangunan masjid berdiri megah di kawasan alun-alun Kabupaten Gresik, bersebelahan dengan kompleks pendapa kabupaten. Letaknya juga cukup dekat dengan makam Sunan Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik, yakni sekitar 300 meter dari lokasi masjid.
Terdampak Bencana dan Renovasi
Dalam perjalanannya, Masjid Jami’ Gresik beberapa kali mengalami kerusakan akibat bencana alam. Renovasi besar dilakukan ketika masjid dipindahkan dari tepi pesisir ke kawasan alun-alun. Perubahan itu sekaligus menandai peran penting masjid ini sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat Gresik.
Jejak Sejarah Islam di Jawa
Keberadaan Masjid Jami’ Gresik tak hanya mencerminkan fungsi ibadah, tetapi juga peran dakwah dan aktivitas sosial sejak berabad-abad lalu. Masjid ini menjadi salah satu bukti kuat penyebaran Islam di Jawa Timur, khususnya di pesisir utara.
Hingga kini, Masjid Jami’ Gresik menjadi ikon religi Kabupaten Gresik. Tidak hanya ramai dikunjungi jamaah, tetapi juga wisatawan yang ingin menelusuri jejak sejarah Islam di wilayah pesisir Jawa.
















