Di balik sosoknya yang anggun dan multitalenta, Karina Salim ternyata menyimpan darah tokoh besar Indonesia. Karina merupakan keturunan dari Haji Agus Salim. Foto: Instagram/Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Di balik sosoknya yang anggun dan multitalenta, Karina Salim ternyata menyimpan darah tokoh besar Indonesia. Karina merupakan keturunan dari Haji Agus Salim, diplomat ulung sekaligus Menteri Luar Negeri pertama Indonesia yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Ya, perempuan kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1991 ini, merupakan cicit dari . Menariknya, Karina baru mengetahui garis keturunannya ini ketika duduk di bangku sekolah dasar. Bukan dari orang tua, melainkan dari guru mata pelajaran sejarah.
Nama Haji Agus Salim memang sudah tidak asing lagi dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Lahir di Kota Gadang, Sumatera Barat, pada 8 Oktober 1884 dengan nama Masjhoedoelhaq, yang berarti pembela kebenaran, Agus Salim dikenal sebagai tokoh intelektual, orator andal, sekaligus diplomat ulung.
Ia memainkan peran penting dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, serta dikenal sebagai "Bapak Pandu Indonesia" karena dedikasinya dalam membina generasi muda. Pada 27 Desember 1961, Agus Salim secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 657.
Tak hanya piawai dalam berdiplomasi, Agus Salim juga dikenal sebagai seorang penulis yang tajam dan pemikir yang brilian. Kehebatannya diperkuat dengan penguasaan tujuh bahasa asing, yakni Belanda, Inggris, Jerman, dan Prancis dari kawasan Eropa, serta Arab, Turki, dan Jepang dari kawasan Timur dan Asia.
Semasa hidupnya, Agus Salim aktif menyuarakan semangat kemerdekaan melalui tulisan-tulisan dan pidatonya. Ia juga tercatat sebagai Menteri Luar Negeri pertama Indonesia dan sering terlibat dalam berbagai forum internasional demi memperjuangkan eksistensi negara baru bernama Republik Indonesia. Agus Salim wafat pada 4 November 1954 dalam usia 70 tahun.
Kiprah di Dunia Seni
Meski mewarisi darah Agus Salim, namun Karina memiliki jalan hidup yang berbeda. Namun demikian, ia tetap memiliki semangat nasionalisme dan cinta Tanah Air yang diajarkan sejak masih kecil.
Pemilik nama lengkap Karina Ekaputri Salim ini adalah seorang pemeran, penyanyi, dan penari balet (balerina) Indonesia keturunan Minangkabau, Sumatera Barat. Perempuan 33 tahun ini mengawali karier seni lewat panggung musikal Onrop, garapan sutradara Joko Anwar pada tahun 2010. Kolaborasi itu berlanjut ke film pendek Durable Love (2012), di mana Karina tampil tanpa skrip dan tetap memukau.
Latar belakangnya sebagai balerina pun memberi warna tersendiri. Sejak usia 5 tahun, Karina sudah menekuni balet klasik dan sempat tampil sebagai pemeran utama dalam Dream On in Dance Musical bersama Namarina Dance Academy.
Debut film layar lebarnya datang pada 2013 lewat What They Don’t Talk About When They Talk About Love, karya Mouly Surya. Ia berperan sebagai Diana, remaja low vision yang harus menggunakan alat bantu untuk melihat.
Film ini membuat sejarah sebagai film Indonesia pertama yang berkompetisi di ajang bergengsi Sundance Film Festival. Penampilannya pun menuai pujian internasional. The Hollywood Reporter menulis, Salim is sublime, captivating both in her confusion and courage (Salim sungguh memukau, memesona baik dalam kebingungan maupun keberaniannya).
Tak hanya piawai berakting dan menari, Karina juga menyalurkan ekspresi seninya lewat musik. Ia merilis singel “Dalam Hati Saja” (2015) dan “Sesuka Hati” (2017), keduanya mendapat sambutan hangat.
Kariernya di dunia seni tak hanya dihiasi dengan karya, tapi juga penghargaan. Tahun 2012, lulusan S-1 Manajemen Universitas Bina Nusantara ini dinobatkan sebagai The Most Talented Female oleh majalah Cosmopolitan. Dua tahun berselang, ia menyabet penghargaan Pendatang Baru Wanita Terbaik di Indonesian Movie Awards 2014.
Menariknya, Karina juga aktif di luar dunia hiburan. Pada 2015, ia menjadi pembicara termuda dalam UK-Indonesia Business Forum yang digelar dalam rangka kunjungan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, ke Indonesia. Ia tampil satu panggung dengan tokoh-tokoh seperti Dian Sastrowardoyo, Susi Pudjiastuti, dan Anna Soubry, membawakan tema “The Stories of Success: Women in Leadership.”
Tahun 2017, ia turut berpartisipasi dalam program pemerintah lewat Kantor Staf Presiden Deputi III dalam penyusunan Citra Indonesia, gagasan strategis tentang citra bangsa.
Darah perjuangan Haji Agus Salim tampaknya tak mengalir sia-sia dalam diri Karina Salim. Meski memilih panggung seni, semangat nasionalisme dan kontribusi untuk bangsa tetap ia jaga dalam tiap langkahnya.