Ilustrasi - Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. (Foto: Istimewa).
JAKARTA, (ERAKINI) - Nama SyekhMuhammad Arsyad Al Banjari hingga kini masih terpatri kuat di hati masyarakat Martapura, Kalimantan Selatan. SyekhMuhammad Arsyadal-Banjari (1710-1812) adalah ulama besar yang berasal dari Kerajaan Banjar di Martapura, Selatan. Ia lahir di Martapura, yang menjadi salah satu pusat keagamaan di Indonesia pada abad ke-16.
Kiprah Syekh Arsyad tidak saja dikenal di daerah Kalimantan Selatan dan Indonesia tetapi juga pada negeri-negeri jiran seperti Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Hal ini disebabkan karya monumentalnya yakni, kitab Sabilal al-Muhtadin yang banyak dipelajari oleh umat Islam di negara-negara tersebut. Lebih dari itu, kitab ini tersimpan rapi di beberapa perpustakaan besar dunia, seperti Makkah, Mesir, Turki dan Beirut.
Mengutip Aizid, Rizem dalam bukunya berjudul “Biografi Ulama Nusantara” (2016), disebutkan bahwa nama asli SyekhMuhammad Arsyadal-Banjari adalah Sayyid Ja'far Al-Aydarus. Ia kemudian mendapat julukan Datu Kalampaian.
Sejak kecil hingga dewasa, ia belajar agama Islam langsung dari keluarganya. Di samping itu, ia juga diberikan pelatihan membuat kaligrafi. Sekitar umur 30 tahun, Muhammad Arsyadal-Banjari ingin melanjutkan pendidikannya ke Tanah Suci Makkah. Keinginan itu dikabulkan oleh pemerintah Kesultanan Banjar pada 1739.
Saat berangkat belajar ke Makkah, Muhammad Arsyadal-Banjari melakukan ibadah haji terlebih dulu. Setelah itu, ia bermukim di Haramain selama beberapa tahun untuk menuntut ilmu agama Islam. Selama di Makkah, Muhammad Arsyadal-Banjari berguru langsung kepada beberapa guru besar, seperti Syekh Hasan bin Ahmad al-Yamani, Syekh Ahmad bin Abdul Mun'im ad-Damanhuri, dan Syekh Muhammad Murtadha bin Muhammad az-Zabidi.
Selain itu, ada beberapa ulama yang mendidiknya, yakni: Syekh Abdullah Mirghani Syekh Abdul Wahab at-Thantawy Syekh Abis as-Sandy Syekh Abdul Gani bin Muhammad Hilal Syekh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawy Syekh Shiddiq bin Umar Khan Syekh Salim Abdullah al-Bishri.
Dari para gurunya tersebut, Muhammad Arsyadal-Banjari mempelajari berbagai bidang keilmuan, seperti fikih mazhab Syafi'i, tasawuf, sains, hingga astronomi. Selama belajar di Arab, ia pun bersahabat dengan beberapa orang dari Tanah Air yang juga menuntut ilmu di sana. Mereka adalah Abdul Rahman al-Batawi, Daud al-Fatani, Abdul Shomad al-Palimbani, dan Abdul Wahab al-Makassari.
SyekhMuhammad Arsyadal-Banjari kembali ke tanah kelahirannya pada 1772. Kedatangannya disambut oleh Sultan Tahmidullah II, yang saat itu memimpin Kesultanan Banjar. Ia pun ditunjuk oleh Sultan Tahmidullah II menjadi ulama untuk mengembangkan keilmuan dan memajukan agama Islam di Kesultanan Banjar.
Penunjukkan Muhammad Arsyadal-Banjari sebagai tokoh atau ulama di Kesultanan Banjar disambut dengan baik oleh masyarakat. Bahkan, Sultan Tahmidullah II juga menjadi salah satu muridnya. Sultan Tahmidullah II inilah yang kemudian memintanya untuk mengarang sebuah kitab.
Muhammad Arsyadal-Banjari kemudian mengarang Kitab Sabilal Mubtadin, yang menjadi pedoman pendidikan agama Islam di Kesultanan Banjar dan bahkan menjadi rujukan bagi penuntut ilmu Islam di Asia Tenggara.
Selama menjadi ulama besar di Kesultanan Banjar, SyekhMuhammad Arsyadal-Banjari berperan merevolusi metode pendidikan Islam. Ia membuka pusat pendidikan agama Islam atau sebuah pondok pesantren yang diberi nama Dalam Pagar.
Pondok pesantren Dalam Pagar ini kemudian berkembang pesat dan menjadi sebuah perkampungan yang ramai untuk menuntut ilmu agama Islam kala itu. Banyak ulama-ulama di Banjar pada saat itu merupakan lulusan dari Dalam Pagar pimpinan Muhammad Arsyadal-Banjari. Selain menjadi ulama dan guru panutan di Kesultanan Banjar dan menulis Kitab Sabilal Mubtadin, ia juga aktif mengarang kitab-kitab lainnya.
Di antara pembaharuan yang dilakukan oleh Syekh Arsyad, adalah bidang Akidah. Dalam bidang ini, Syekh Arsyad melakukan beberapa kontekstualisasi ajaran sesuai dengan kebutuhan masyarakat Banjar saat itu, seperti kritiknya terhadap upacara menyanggar banua (menyelamati kampung) dan membuang Pasilih (membuang sial), sebagaimana dituangkan dalam salah satu tulisannya, Tuhfah al-Raghibin.
Dalam bidang syariat, Syekh Arsyad menulis kitabnya yang terkenal, Sabil al-Muhtaddin li al-Tafaqquh fi Amr al-Din, dan kitab al-Nikah. Selain itu, ia juga menulis kitab di bidang Dakwah dan Tasawuf.
Pemikiran Syekh Arsyad di bidang akidah Islam terlihat dalam upayanya memurnikan akidah Islam dari bid’ah dhalalah dan memurnikan faham ahlussunah waljama’ah. Bentuk pemurniannya, melarang ajaran wujudiyah dan meyakinkan Sultan Nata Alam bahwa wahdatul wujud itu bertentangan dengan faham ahlususunnah wal jama’ah.
Sementara dalam bidang dakwah, Syekh Arsyad mengaplikasikan pemikirannya dalam berbagai aspek kehidupan secara mendasar. Secara umum, terdapat tiga klasifikasi dakwah yang dikembangkan oleh Syekh Arsyad, yaitu dakwah bil hal, dakwah dengan lisan dan dakwah dengan tulisan.
Kemampuan SyekhMuhammad ArsyadSyekh Arsyad yang sangat istimewa adalah kecakapannya di bidang mengarang yakni menyusun kitab-kitab agama. Hal itu meliputi bidang syari’at, tauhid atau ilmu ushuluddin dan bidang tasawuf.
Sebagian besar kitab-kitab tersebut ditulis dalam bahasa Melayu, bahasa yang umum dipergunakan di seluruh Asia Tenggara sejak abad ke 14 Masehi dengan menggunakan huruf Arab-Melayu. Di antara kitab-kitab karangan dari Muhammad Arsyadal-Banjari yakni, Kitab Ushuluddin yang biasa disebut Kitab Sifat Duapuluh, Kitab Tuhfatur Raghibin, Kitab Nuqtatul Ajlan Kitabul Fara-idl, Kitab Sabi al-Muhtadin li at-Tafaqquh fi Amriddin dan Kitab Kanz al-Makrifah.
Setelah mengabdikan diri bagi perkembangan agama Islam dan kemajuan pendidikan di Kesultanan Banjar, Muhammad Arsyadal-Banjari meninggal pada 1812 di usia 102 tahun. Namanya terus dikenang sebagai ulama besar dari Kalimantan dan juga dikenang sebagai pedakwah di Indonesia bahkan Asia Tenggara.