JAKARTA, (ERAKINI) - Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) banyak melahirkan ulama besar dalam sejarah penyebaran agama Islam di Nusantara. Salah satunya adalah Mbah Syamsuri Mas'um, satu dari sekian ulama terkemuka di Nusantara yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan pendidikan Islam dan organisasi NU meski namanya kurang dikenal di tingkat nasional.
Dalam buku berjudul “The Authorized Bioghraphy of KH Ma’shum Ahmad (Mbah Ma’shum Lasem)” karya M. Luthfi Thomafi yang dikutip pada Sabtu (22/3/2025), disebutkan bahwa Mbah Syamsuri Mas’um lahir sekitar tahun 1870 M dengan nama asli Muhammadun. Mbah Syamsuri Mas’um yang dikenal juga sebagai Mbah Ma'shum. merupakan putra dari KH. Ahmad bin Abdul Karim, seorang ulama di Bangkalan Madura. Sejak dini, Mbah Ma'shum menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap ilmu agama, yang membawanya untuk menimba ilmu dari berbagai ulama terkemuka di Indonesia.
Mbah Ma'shum memulai perjalanan keulamannya di pesantren-pesantren di Jawa Timur, termasuk belajar di bawah bimbingan ulama khos, Mbah Kholil Bangkalan. Dalam waktu singkat, Mbah Mas’shum berhasil menguasai berbagai disiplin ilmu, termasuk kitab Alfiyyah.
Selama di Bangkalan, Mbah Ma’shum diminta oleh Mbah Kholil untuk mengajar kitab Alfiyyah selama 40 hari. Mbah Ma’shum menimba ilmu di Bangkalan hanya selama 3 bulan saja.
Pada saat dirinya menyelesaikan pendidikan dan pamit kepada Mbah Kholil, dirinya didoakan dengan doa Sapujagad. Setelah dirinya beranjak dari ndalem Mbah Kholil beberapa meter, Mbah Ma’shum dipanggil kembali oleh Mbah Kholil untuk didoakan dengan doa yang sama. Hal ini terus dilakukan berulang-ulang sebanyak 17 kali.
Di antara guru-guru Mbah Ma’shum yakni Kyai Nawawi Jepara, Kyai Ridhwan Semarang, Kyai Umar Harun Sarang, Kyai Abdussalam Kajen, Kyai Idris Jamsaren Solo, Kyai Sholeh Umar Semarang atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kyai Sholeh Darat, Kyai Kholil Bangkalan, dan kyai-kyai besar lainnya.
Saat berada di tanah suci Makkah al-Mukarramah, Mbah Ma’shum juga mengaji dan beristifadah kepada Syekh Mahfudz al-Turmusi dan Syekh Dimyati al-Turmusi. Nasab kelimuan Mbah Ma’shum bersambung sampai Sayyid Ahmad Zaini Dahlan—syaikhu masyayikh (guru para guru) dan tali simpul sanad keilmuan para ulama nusantara—melalui jalur Syekh Kholil Bangkalan, yang berguru kepada Syekh Nawawi al-Bantani, yang berguru kepada Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Makkah.
Setelah menempuh pendidikan, Mbah Ma'shum menikah dengan Nyai Hj. Nuriyyah binti KH. Zainudin dan dikaruniai beberapa anak yang kelak juga menjadi tokoh penting dalam dunia pesantren dan NU. Di antara anak-anaknya adalah KH. ‘Ali Ma’shum Krapyak yang menjadi pengasuh Pondok Pesantren Krapyak dan Ra’is ‘Aam NU ke-4.
Setelah menikah, Mbah Ma'shum sempat berdagang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya sambil tetap aktif mengajar umat. Ia sering berkunjung ke Tebuireng untuk mengikuti forum musyawarah yang dipimpin oleh pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari. Meskipun lebih tua, ia tetap menghormati Hasyim Asy’ari sebagai gurunya dalam bidang hadis.
Satu titik balik dalam hidup Mbah Ma’shum terjadi ketika ia mengalami mimpi bertemu Rasulullah yang memintanya untuk fokus pada pengajaran ilmu. Kemudian Mbah Ma’shum meminta pendapat atas mimpi tersebut kepada Mbah Hasyim Asy’ari Kejadian luar biasa tersebut menjadi titik balik bagi Mbah Ma’shum untuk menjadi ulama, pengajar bagi umat muslim.
Pesan atas mimpi itu kemudian mendorongnya untuk mendirikan Pondok Pesantren Al-Hidayat Lasem di Rembang Jawa Tengah pada tahun 1918 setelah sebelumnya membangun langgar pada tahun 1916. Di pondok pesantrennya, Mbah Ma'shum mengajarkan berbagai kitab dan nilai-nilai Islam seperti toleransi, keadilan, dan moderasi.
Aktivis Sosial dan Organisasi
Mbah Ma'shum tidak hanya berfokus pada pendidikan formal tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial dan organisasi keagamaan. Ia berjuang untuk pengembangan NU dan menekankan pentingnya mengikuti ajaran organisasi tersebut kepada generasi penerusnya.
Ketika NU dideklarasikan pada 16 Rajab 1344 H/ 31 Januari 1926 M, Mbah Ma’shum bersama KH Khalil Masyhuri mewakili daerah Lasem untuk menghadiri peresmian organisasi keagamaan tersebut tepatnya di Jalan Bubutan VI Surabaya.
Menurut keterangan cucunya yaitu KH Zaim Ahmad bahwa Mbah Ma’shum merupakan salah satu orang yang mendorong pendirian NU. Mbah Ma’shum aktif di NU bersama KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab dan KH Kholil Bisri Syansuri. Kiprah Mbah Ma’shum pasca berdirinya NU yakni mendirikan cabang-cabang NU seperti di Lasem yang menjadi cabang NU ke 11.
Kecintaan Mbah Ma’shum terhadap organisasi NU begitu dalam. Dirinya selalu mempraktekkan sikap-sikap dasar yang menjadi pegangan Jam’iyyah NU yaitu; sikap tasamuh (toleransi), tawazun (berimbang), i’tidal (adil), dan tawassuth (moderat).
Di masa hidupnya, Mbah Ma’shum dikenal sebagai sosok yang istiqomah dalam mendidik santri-santrinya serta mengayomi masyarakat sekitar. Kehidupan sehari-hari Mbah Ma’shum dipenuhi dengan aktivitas ziarah ke makam para wali sebagai bentuk penghormatan dan spiritualitas. Ia tidak hanya melahirkan generasi ulama yang meneruskan perjuangannya tetapi juga membangun fondasi bagi perkembangan pesantren di Nusantara.
Melalui ajarannya yang moderat dan inklusif, Mbah Ma’shum telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman Islam yang damai dan toleran di Indonesia. Mbah Ma’shum wafat pada tanggal 20 Oktober 1972 setelah melaksanakan salat Jumat dan dimakamkan di kompleks Masjid Jami’ Lasem. Warisan Mbah Ma'shum sangat besar dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia.