JAKARTA, (ERAKINI) - Sekira abad 20, di wilayah Laweyan Kota Solo ada seorang kiai terkenal yang gemar berkeliling kampung memakai iket berbaju putih serta bersarung wulung. Kiai tersebut menanyakan kepada tetangga perihal stok makanan. Apabila warga tersebut tidak bisa makan, sang kiai selalu berusaha untuk membantu agar dapur warga sekitarnya tetap mengepul.
Sosok kiai sederhana yang memiliki kepedulian terhadap warga miskin tersebut adalah , seorang ulama terkemuka yang memiliki peran penting dalam perkembangan Islam dan perjuangan kemerdekaan di (Surakarta) pada abad ke-20. Semasa hidupnya sebagai ulama nasionalis dan pluralis.
Dilansir dari berbagai sumber pada Selasa (25/3/2025), KH Ahmad Siradj lahir pada tahun 1878 dan wafat pada tahun 1961. KH Ahmad Siradj menimba ilmu dari beberapa kiai ternama di Jawa, di antaranya, Kiai Imam Bahri di Pesantren Mangunsari, Nganjuk, Jawa Timur, Kiai Dimyathi di Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, dan Kiai Sholeh Darat di Semarang, Jawa Tengah.
Garis nasab KH Ahmad Siradj hingga kepada Sunan Hasan Munadi, paman Raden Fatah yang mendakwahkan Islam di daerah lereng Gunung Merbabu Ungaran. Kiai Siradj merupakan salah satu murid Kiai Sholeh Darat Semarang (1820-1903).
Pengalaman belajar dari para ulama besar ini membentuk kepribadian dan pemikiran KH Ahmad Siradj tentang pendidikan Islam. Sekembalinya dari nyantri, Kiai Siradj mendakwahkan Islam di Solo. Di Solo tepatnya di wilayah Laweyan, KH Ahmad Siradj mendirikan Pondok Pesantren As-Siradj yang masih berdiri hingga saat ini.
Di pesantren tersebut, KH Ahmad Siradj mengajarkan berbagai kitab seperti Al-Qur'an, hadits, Safinat al-Naja, Fath al-Qarib, Durrat al-Bahiyyah, dan Sullam al-Taufiq. Salah satu murid KH Ahmad Siradj adalah KH. Muslim Rifa’i Imam Puro (Mbah Liem, w. 2012), seorang ulama terkenal pengasuh Pesantren al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten.
Dalam kesehariannya, Kiai Siradj identik dengan pakaian corak Jawa. Iket batik, baju putih, sarung batik wulung, dan bakiak kayu. Kiai Siradj dikenal dekat dengan berbagai kelas masyarakat.
Mulai dari kerabat keraton hingga rakyat jelata. Tidak membeda-bedakan latar belakang suku, ras dan agama. Hal ini yang membuat dakwah Kiai Siradj dapat mudah diterima.
Selain dekat dengan kalangan bawah, Kiai Siradj juga menjadi penasihat spiritual Raja Kasunanan Solo, Pakubuwono X (1866-1936). Kedermawanan Kiai Siradj sudah mafhum bagi khalayak khususnya masyarakat bawah. Dalam berdakwah Kiai Siradj juga mengedepankan cara-cara dakwah yang humanis dan inklusif. Hingga kini, setiap haul Kiai Siradj digelar pada 27 Muharram, berbagai jamaah tumpah ruah.
KH Ahmad Siradj juga aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dirinya bergabung dengan Barisan Kiai yang berjuang bersama pasukan Hizbullah dalam mempertahankan kemerdekaan, khususnya di wilayah Solo. Soepanto dalam bukunya “Hizbullah Surakarta” (1992), mengisahkan peran “Barisan Kiai” ini dalam upaya merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dalam buku tersebut dijelaskan, sosok kiai memiliki otoritas karismatik yang dengan hal itu, dapat menjadi sosok pengobar semangat untuk berjuang dan membangkitkan cinta kepada tanah air, dengan slogan: hubbul wathon minal iman (cinta tanah air adalah sebagian daripada iman).
Peran perjuangan Barisan Kiai ini bersama laskar Hizbullah, Sabilillah, serta elemen lain seperti Tentara Pelajar, Barisan Banteng, dan lainnya memberikan andil besar dalam upaya mengusir penjajah.
Selain berjuang melawan penjajah, KH Ahmad Siradj juga dikenal sebagai salah satu perintis organisasi Nahdlatul Ulama di Surakarta. Kiai Siradj hadir bersama Kiai Mawardi pada Muktamar NU pertama di Surabaya pada tahun 19261. Kehadirannya menandai awal keberadaan NU di Kota Solo sejak tahun tersebut.
Dakwah Kiai Siradj melalui NU lantas diteruskan oleh anak keturunan beliau. Di antaranya adalah KH. Shoimuri (w.1983), Rais Syuriah PCNU Boyolali. KH. Mubin Shoimuri (w.2007), Ketua PCNU Surakarta, dan Nyai Basyiroh Shoimuri (Ketua PP IPNU). Kiai Siradj wafat pada hari Senin Pahing, 27 Muharram 1381 H/10 Juni 1961 M. Dimakamkan di TPU Makam Haji Kartosuro.
Selain dakwahnya yang bersifat humanis, Kiai Sirajd juga menghasilkan karya tulis terkenal berupa buku berjudul “Irang-irang Sekar Panjang”. Buku ini terdiri dari tiga jilid kecil yang membahas tentang kematian, kehidupan setelah mati, dan makna dari kematian. Ditulis dalam bentuk tembang dengan huruf Arab Pegon, buku ini menggabungkan ajaran agama dengan budaya lokal untuk memudahkan pemahaman masyarakat awam.
Kiai Siradj menggunakan pendekatan yang unik dalam penulisan karyanya, yaitu menggabungkan ajaran Islam dengan budaya Jawa. Hal ini terlihat dalam penggunaan bahasa dan bentuk sastra, seperti tembang, untuk menyampaikan pesan-pesan agama kepada masyarakat yang lebih luas.
Pengaruh KH Ahmad Siradj masih terasa hingga saat ini. Beberapa keturunannya menjadi pengurus NU Surakarta, termasuk Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan mantan Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut).
Setiap tahun, peringatan haul KH Ahmad Siradj dihadiri oleh berbagai kalangan dari berbagai daerah, menunjukkan besarnya pengaruh dan kenangan akan sosoknya. Warisan spiritual dan perjuangan Kiai Siradj akan terus dikenang dan dihormati oleh masyarakat luas, termasuk dari kalangan non-Muslim