KH Hasyim Asy’ari juga dikenal sebagai bagian penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kontribusinya begitu besar terhadap tegaknya Negara Republik Indonesia terutama dengan dikeluarkannya Resolusi Jihad yang menyebabkan penjajah tak lagi bisa berkuasa di negeri ini.
Banyak sumber yang dikutip, Selasa (25/3/2025), KH Hasyim Asy’ari lahir di Jombang pada 14 Februari 1871 dan wafat pada bulan Juli 1943. Sejak kecil, kehidupannya tak bisa dipisahkan dari lingkungan pesantren.
Tak heran, karena ia lahir dan besar di lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, yang berada di bawah kepemimpinan ayahnya sendiri yaitu KH. Asy’ari. Bahkan, kakek buyutnya, Kiai Sihah merupakan pendiri Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang.
Sementara kakeknya, Kiai Usman juga termasuk ulama berpengaruh, pendiri Pondok Pesantren Gedang. Abdul Hadi dalam bukunya berjudul “KH. Hasyim Asy’ari” (2018) menceritakan, sejak muda Kiai Hasyim tumbuh menjadi sosok yang dikenal cerdas dan senang mengembara dalam rangka mencari ilmu.
Saat usia 15 tahun, ia banyak mengunjungi beberapa pesantren di Jawa Timur. Bahkan ia juga menimba ilmu hingga ke Mekkah, selama kurang lebih 6 tahun. Pengembaraannya ke beberapa pesantren dipengaruhi keinginannya untuk memperoleh disiplin ilmu yang beragam.
Pada tahun 1892, KH. Hasyim Asy’ari berangkat ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama. Di sana, kakek mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu belajar kepada beberapa ulama besar, termasuk Syaikh Mahfudz at-Tarmasi, seorang ulama asal Nusantara yang terkenal di Makkah.
Karena kematangan ilmunya, sampai di Makkah KH Hasyim Asy’ari relatif mudah berkomunikasi dan membangun jejaring internasional di antara kawan seangkatannya. Di sana ia tidak melulu menjalankan aktivitas belajar-mengajar.
Ia bahkan menggalakkan diskusi bersama teman-temannya seusai aktivitas belajar-mengajar tentang nasib dunia Islam yang sedang tertindas oleh bangsa asing pun. Teman Kiai Hasyim saat itu adalah Sayyid Shaleh Syattha, Syekh At-Thayyib As-Sasi, Syekh Bakr Shabbagh, Sayyid Shaleh bin Alawi bin Aqil, Syekh Abdul Hamid Quddus, Syekh Muhammad Nur Pattani, Syekh Muhammad Sa’id Abul Khair, Syekh Abdullah Hamduh, Sayyid ‘Aidrus Al-Barr, Sayyid Muhammad Ali Al-Maliki, dan Sayyid Muhammad Thahir Ad-Dabbagh yang dikemudian hari berkunjung ke Indonesia menemui KH Hasyim Asy’ari.
Sementara dengan sahabat lainnya, KH Hasyim Asy’ari terus membangun korespondensi meski terbentang jarak lintas batas negeri yang sangat jauh. Setelah kembali dari Makkah, KH Hasyim Asy'ari mendirikan Pesantren Tebuireng pada tahun 1899. Dirinya juga melanjutkan karier pengajarannya.
Salah satu kontribusi terbesar KH Hasyim Asy'ari adalah pendirian NU pada 31 Januari 1926. NU didirikan sebagai respons terhadap perkembangan global dan lokal yang mempengaruhi umat Islam, termasuk penyebaran paham modernisme dan puritanisme yang dianggap kurang sesuai dengan budaya dan tradisi lokal Indonesia. Selain itu, NU di desain Kiai Hasyim dengan misi untuk menjaga dan mengembangkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama\'ah yang moderat dan inklusif.
Ulama yang akrab disapa Mbah Hasyim ini semasa hidupnya juga berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagai ulama yang dihormati, ia menggunakan pengaruhnya untuk menggalang dukungan umat Islam terhadap perjuangan melawan penjajah.
Pada masa pendudukan Jepang, Mbah Hasyim bersama para ulama lain mengeluarkan "Resolusi Jihad" pada 22 Oktober 1945. Resolusi ini menyerukan bahwa membela tanah air dari penjajah adalah kewajiban bagi setiap Muslim, dan menjadi salah satu faktor yang memicu pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang kini dikenang sebagai Hari Pahlawan.
Selain itu, Mbah Hasyim juga mendukung pembentukan negara yang berdasarkan Pancasila. Ia berpendapat bahwa Pancasila sebagai dasar negara tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan dapat menjadi landasan yang kokoh untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis di Indonesia yang majemuk.
Peran KH Hasyim Asy'ari sebagai pemersatu umat Islam di Indonesia sangatlah penting. Melalui NU, ia berhasil mengembangkan pendekatan Islam yang moderat dan inklusif, yang mampu menyatukan berbagai kelompok dalam masyarakat. Pendekatan ini berbeda dengan beberapa gerakan lain yang lebih puritan atau radikal, yang cenderung menolak tradisi dan budaya local.
KH. Hasyim Asy'ari mengajarkan bahwa perbedaan pandangan dalam Islam adalah sesuatu yang wajar dan harus dihormati. Sikap inklusif ini menjadikan NU sebagai wadah yang mampu menampung beragam pandangan dan praktik keislaman, dari yang sangat tradisional hingga yang lebih modern. Hal ini membantu menciptakan kohesi sosial dan menghindari konflik internal yang bisa melemahkan umat Islam di Indonesia.
Keseharian Mbah Hasyim
Abdul Hadi dalam bukunya berjudul “KH. Hasyim Asy’ari” (2018) menyebutkan, sebagai sosok kiai kharismatik, KH. Hasyim Asy’ari memiliki kebiasaan-kebiasaan positif yang mampu menginspirasi banyak orang, terutama para ulama dan kiai di negeri ini. Misalnya, ia memiliki kebiasaan silaturahmi atau menjalin hubungan kekerabatan. Melalui silaturahmi, Islam membimbing umatnya agar menjadi manusia luhur yang mau berinteraksi dengan sesama.
Selama menjadi pengasuh pesantren, Kiai Hasyim senantiasa menjaga silaturahmi dengan orang-orang di sekitar pesantren. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak membeda-bedakan masyarakat yang dijumpainya.
Termasuk membaur bersama para pemabuk, penjudi, dan begundal. Kebiasaannya menjalin silaturahim berdampak positif terhadap masyarakat yang awalnya senang maksiat perlahan mengubah kebiasaannya, bahkan sebagian dari mereka kemudian menjadi santrinya.
Terhadap para santrinya, Kiai Hasyim juga mengajarkan kebiasaan-kebiasaan positif yang layak dijadikan sebagai keteladanan. Misalnya, ia mengajari para santri tentang cara bertani atau bercocok tanam, sebagai sebuah upaya untuk mengajarkan tentang kemandirian serta wirausaha. Ajaran bercocok tanam juga merupakan sebuah bentuk solusi atas persoalan konkret di masyarakat, yakni kemiskinan.
Saat musim panen tiba, Kiai Hasyim menjual hasil panennya sendiri ke pasar. Meskipun memiliki santri tapi tak menjadikan Kiai Hasyim menyuruh mereka dengan sewenang-wenang. Sampai kemudian ada beberapa santrinya yang berinsiatif untuk tetap membantunya menjualkan hasil panenan tersebut. Ketekunan Kiai Hasyim dalam bertani dan berdagang menjadikannya sebagai sosok yang tergolong mapan secara ekonomi.
Limpahan kekayaan yang dimiliki tak lantas membuat Kiai Hasyim menjadi lupa diri. Ia berusaha meneladani Rasulullah SAW. yang hidup dengan kesederhanaan. Ia tidak membangun rumah megah. Bahkan kediamannya hanya berupa rumah berdinding bambu dan berlantai semen. Sebagian besar kekayaannya pada saat itu lebih banyak digunakan untuk membiayai kepentingan-kepentingan masyarakat, terutama pesantren.
Selain memiliki gaya hidup sederhana, Kiai Hasyim juga dikenal sebagai sosok bijak, adil, nasionalis, tidak egois, dan pemaaf. Hal ini dibuktikan ketika ada sebagian masyarakat yang tak menyukainya, ia tak lantas memobilisasi para santrinya untuk melawan mereka. Justru yang dilakukan Kiai Hasyim adalah memaafkan orang-orang yang hendak mencelakainya.