Filosofi Ketupat, Kenapa Dikaitkan dengan Hari Raya Idulfitri?
Akhmad Baihaqi Arsyad
JAKARTA, (ERAKINI) – Ketupat menjadi salah satu menu hidangan utama saat Hari Raya Idulfitri tiba. Ketupat tak pernah tertinggal dari deretan menu hidangan lebaran. Lantas apa filosofi ketupat dan kenapa selalu dikaitkan dengan Hari Raya Idulfitri?
Melansir berbagai sumber, hidangan kupat saat lebaran Idulfitri telah diwariskan oleh seorang penyebar agama Islam di Indonesia yakni Sunan Kalijaga sejak abad ke ke-15 hingga 16.
Sunan Kalijaga ketika memasuki lebaran menjadikan ketupat hidangan wajib sebagai salah satu media akulturasi dakwah untuk menyatukan budaya Jawa dengan nilai-nilai Islam.
Berikut ini filosofi ketupat Lebaran Idulfitri!
1. Janur Kuning
Ketupat biasanya dibuat dengan janur kuning. Janur kuning diartikan sebagai simbol penolak balak. Di masyarakat Jawa Janur merupakan asal dari kata sejane ning nur (arah menggapai cahaya, maksudnya cahaya Illahi).
Sedangkan kuning dimaknai dengan sabdo dadi (yang dihasilkan dari hati atau jiwa yang bening). Sehingga ketika menggunakan janur kuning, terdapat pengharapan untuk menerima nur Allah dengan jiwa yang suci.

















