Benarkah Safar Bulan Sial? Begini Penjelasan Para Ulama
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Saat ini umat Islam memasuki bulan Safar, yaitu bulan kedua dalam kalender hijriah. Di kalangan masyarakat, bulan safar kerap dikaitkan dengan kesialan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Katanya Safar adalah bulan sial, lebih-lebih di bulan Safar Allah menurunkan ribuan penyakit ke bumi. Lalu bagaimana kebenaran dari isu tersebut?
Sebelum menjelaskan perihal kesialan, para ulama menerangkan bahwa nama "Safar" menurut Imam Abul Fida Ismail bin Umar ad-Dimisyqi atau Ibnu Katsir (w. 774 H), Safar berasal dari situasi masyarakat Arab di masa lampau yang meninggalkan rumah-rumah mereka untuk berperang atau bepergian jauh. Dalam Tafsîrnya, Ibnu Katsir menuliskan:
صَفَرْ: سُمِيَ بِذَلِكَ لِخُلُوِّ بُيُوْتِهِمْ مِنْهُمْ، حِيْنَ يَخْرُجُوْنَ لِلْقِتَالِ وَالْأَسْفَارِ
"Safar dinamakan dengan nama tersebut, karena sepinya rumah-rumah mereka dari mereka, ketika mereka keluar untuk perang dan bepergian."
Asal-usul penamaan bulan Safar juga dibahas oleh Ibnu Manzhur (w. 771 H) dalam Lisânul ‘Arab. Ia menyebut tiga kemungkinan: pertama, rumah-rumah yang kosong karena ditinggal bepergian; kedua, kebiasaan orang Arab memanen lalu mengosongkan ladang; ketiga, banyak kabilah kembali dari peperangan dalam keadaan tangan kosong.
Namun, seiring waktu, muncul kepercayaan di kalangan masyarakat bahwa Safar adalah bulan pembawa kesialan. Anggapan ini secara tegas dibantah oleh sejumlah , salah satunya Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H). Dalam Lathâ-iful Ma’ârif, ia menyatakan:


















